ISTRIKU…, AKU MENCINTAIMU

0
119

Kendati dirinya telah mengelilingi dunia, bahkan hamper tidak ada Negara baru di dalam peta, dan terlalu sering naik pesawat terbang sehingga seperti naik mobil biasa, namun istrinya belum pernah naik pesawat terbang kecuali pada malam itu. Hal ini terjadi setelah 20 tahun pernikahan mereka. Dari mana? Dan ke mana? Dari Dahran ke Riyadh. Dengan siapa? Dengan adiknya yang orang desa dan bersahaja yang merasa dirinya harus menyenangkan hati kakaknya dengan sempurna. Ia membawa wanita itu dengan mobil bututnya dari Riyadh menuju Dammam. Pada waktu pulang, wanita itu berharap kepadanya agar ia naik pesawat terbang. Wanita itu ingin naik pesawat terbang sebelum meninggal dunia. Ia ingin menaiki pesawat terbang yang selalu dinaiki Khalid, suaminya, dan yang ia lihat di langit dan di televise.

Sang adik mengabulkan mengabulkan keinginnya dan membeli tiket untuknya. Ia menyertakan putranya sebagai mahramnya. Sementara ia pulang sendirian sambil diguncang olah perasaan dan mobilnya.

Malam itu Sarah tidak tidur, melainkan bercerita kepada suaminya, Khalid, selama satu jam tentang pesawat terbang. Ia bercerita tentang pintu masuknya, tempat duduknya, penerangannya, kemegahannya, hiidangannya, dan bagaimana pesawat itu terbang di udara. Terbang !! Ia bercerita sambil tercengang. Seolah-olah ia baru datang dari planet lain. Tercengang, terkesima dan berbinar-binar. Sementara suaminya memandanginya dengan perasaan heran. Begitu selesai bercerita tentang pesawat terbang, ia langsung bercerita tentang kota Dammam dan perjalanan kesana dari awal samapai akhir. Juga tentang laut yang baru pertama kali dilihatnya sepanjang hidupnya. Dan juga tentang  jalan yang panjang dan indah antara Riyadh dan Dammam saat ia berangkat. Sedangkan saat Pulang ia naik pesawat terrbang. Pesawat terbang yang tidak akan pernah ia lupakan untuk selama-lamanya.

Ia duduk berlutut seperti bocah kecil yang melihat kota-kota hiburan terbesar untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia mulai bercerita kepada suaminya dengan mata berbinar penuh ketakjuban dan kebahagiaan. Ia melihat jalan raya, pusat perbelanjaan, manusia, batu, pasir, dan restoran. Juga bagaimana  laut berombak dan berbuih bagaikan onta yang berjalan. Dan bagaimana ia meletakkan kedua tangannya di air laut dan ia pun mencicipinya. Ternyata asin… asin. Pun, ia bercerita tentang laut yang tampak hitam siang hari dan tampak biru di malam hari. “Aku melihat ikan, Khalid! Aku melihatnya dengan mata kepalaku. Aku mendekat ke pantai. Adikku menangkap seekor ikan untukku, tapi aku kasihan padanya dan kulepas lagi ke air.

Ikan itu kecil dan lemah. Aku kasihan pada ibunya dan juga padanya. Seandainya aku tidak malu, Khalid, pasti aku membangun rumah-rumahan di tepi laut itu. Aku melihat anak-anak membangun rumah-rumahan disana. Oh ya, aku lupa, Khalid! Ia langsung bangkit, lalu mengambil tasnya dan membukanya. Ia mengeluarkan sebotol parfum dan memberikannya kepada sang suami. Ia merasa seolah-olah sedang meberikan dunia. Ia berkata, “Ini hadiah untukmu dariku. Aku juga membawakanmu sandal untuk kau pakai di kamar mandi.” Air mata hamper menetes dari mata Khalid untuk pertama kali. Untuk pertama kalinya dalam hubungannya dengan Sarah dan perkawinannya dengan sang istri. Ia sudah naik sebagian besar maskapai penerbangan dunia, tapi tidak pernah sekalipun mengajak sang istri pergi bersamanya. Karena, ia mengira bahwa wanita itu bodoh dan buta huruf. Apa perlunya melihat dunia dan bepergian? Mengapa ia harus mengajaknya pergi bersama?

Ia lupa bahwa wanita itu adalah manusia. Manusia dari awal sampai akhir. Dan kemanusiaannya sekarang tengah bersinar di hadapannya dan bergejolak di dalam hatinya. Ia melihat istrinya membawakan hadiah untuknya dan tidak melupakannya. Betapa besarnya perbedaan antara uang yang ia berikan kepada istrinya saat ia berangkat bepergian atau pulang dengan hadiah yang diberikan sang istri kepadanya dalam perjalanan satu-satunya dan yatim yang dilakukan sang istri. Bagi Khalid, sandal yang  diberikan sang istri setara dengan semua uang yang telah dia berikan kepadanya. Karena uang dari suami adalah kewajiban, sedangkan hadiah adalah sesuatu yang lain. Ia merasakan kesedihan tengah meremas-remas hatinya sambil melihat wanita penyabar itu. Wanita yang selalu mencuci bajunya, menyiapkan piringnya, melahirkan anak-anaknya, mendampingi hidupnya, dan tidak tidur saat dia sakit. Wanita itu soeolah-olah baru pertama kali melihat dunia. Tidak pernah terlintas dibenak wanita itu untuk mengatakan kepadanya, “Mengapa dia tidak pernah bepergian?” Karena ia adalah wanita miskin yang melihat suaminya di atas, karena pendidikannya, wawasannya, dan kedermawanannya. Tapi ternyata bagi Khalid, senua itu kini menjadi hampa, tanpa rasa dan tanpa hati. Ia merasa bahwa dirinya telah memenjara seorang wanita yang tidak berdosa selama 20 tahun yang hari-harinya berjalan monoton.

Kemudian, Khalid mengangkat tangannya ke matanya untuk menutupi air matanya yang nyaris tak tertahan. Dan dia mengucapkan satu kata kepada istrinya. Satu kata yang diucapkan untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan tidak pernah terbayang dalam dalam benaknyabahwa ia akan mengatakannya sampai kapan pun. Ia berkata kepada istrinya, “Aku mencintaimu.” Ia mengucapakan dari lubuk hatinya.

Kedua tangan sang istri berhenti membolak-balik tas itu. Mulutnya pun berhenti bercerita. Ia merasa bahwa dirinya telah masuk ke dalam perjalanan lain yang lebih menakjubkan dan lebih nikmat dari kota Dammam, laut dan pesawat terbang. Yaitu, perjalanan cinta yang baru dimulai setelah 20 tahun menikah. Perjalanan yang dimulai dengan satu kata. Satu kata yang jujur. Ia pun menangis tersedu-sedu.

Hikmah Yang dapat  diambil dari kisah di atas:

  • Sesungguhnya tabiat manusia adalah menyukai keindahan, dan sesuatu yang indah lagi menjadikan hati gembira di dunia. Bahkan sebagian mereka terlena dengan keindahan yang mereka dapatkan sehingga melupakan kebahagiaan terbesar yang disiapkan oleh Allah kelak di akhirat.
  • Islam adalah agama yang Indah, agama yang adil, menjadikan laki-laki dan wanita memiliki perannya masing-masing. Dijadikan laki-laki sebagai pemimpin bagi wanita, karena kelebihan yang diberikan oleh Allah.
  • Salah satu kewajiban suami adalah memberikan nafkah kepada istrinya, nafkah lahiriyah dan bathiniyyah. Termasuk di dalamnya adalah saling berusaha mengajak mendekatkan diri kepada Allah, bisa berupa banyak hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menambah kecintaan, misalnya mengikuti kajian bersama, saling membangunkan diwaktu malam untuk sholat qiyamul lail, melakukan diskusi ilmiyah, dll.
  • Sungguh merupakan kebahagiaan terbesar bagi seorang laki-laki yang mendapatkan pendamping yang sholihah, demikian pula sebaliknya. Sebagaimana dijelaskan bahwa sesungguhnya dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.
  • Kaum wanita adalah manusia biasa yang tidak sempurna, mengalami kebosanan, ketidaknyamanan. Untuk itulah wahai para suami, bahagiakanlah dia (istrimu), orang yang telah membahagiakan hidupmu, yang selalu menantikan kepulanganmu dikala engkau bepergian, yang menjaga rumahmu dikala sepi, yang memasak masakan special untukmu, yang melahirkan dan mendidik anak-anakmu menemanimu dikala sedih maupun senang, yang menjadi teman dekatmu disetiap waktu, yang menyempurnakan agamamu. Jika ia melakukan kesalahan, maka ia adalah manusia biasa, bukan seorang bidadari yang penuh dengan kesempurnaan, luruskanlah dengan lembut, bukankah ia berasal dari tulang rusuk yang paling bengkok, jika diperlakukan dengan keras pasti akan patah, dan jika dibiarkan dia akan tetap bengkok. Sesungguhnya Rasulullah –shalallahu ‘alihi wasallam-, teladan kita semua adalah orang yang paling berkasih sayang kepada semua manusia terutama kepada istri dan keluarga beliau.
  • Sifat manusia adalah merasa kagum atau heran dengan sesuatu keindahan atau keburukan yang belum pernah ia lihat sama-sekali. Dalam cerita di atas kebahagiaan seorang wanita yang melihat keindahan dunia dengan penuh kekaguman. Bagaimana jika ditampakkan surga kepada kita kelak. Bukankah surga merupakan kenikmatan yang belum pernah mata memandang, belum pernah telinga mendengar, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia. Tentunnya kita akan lebih terkagum-kagum ketika disurga dengan tambahannya yang disediakan untuk orang-orang yang beriman dan beramal sholih. Kita memohon kepada Allah surga tertinggi. Wallahul musta’an
  • Diantara yang menyebabkan kecintaan adalah saling memberi hadiah, oleh sebab itu rosululllah pernah bersabda: “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.”
  • Menangis merupakan salah satu bentuk ekspresi yang merupakan gambaran perasaan dan isi hati seseorang. Ibnul Qoyim membagi tangisan menjadi beberapa bagian, diantaranya sebagai berikut:

a.    Tangisan kasih sayang dan kelembutan,

b.    Tangisan karena takut,

c.    Tangisan cinta dan rindu,

d.    Tangisan kebahagiaan dan kegembiraan,

e.    Tangisan kekhawatiran karena suatu hal yang menyakitkan dan tidak adanya kekuatan untuk menanggungnya

f.    Tangisan kesedihan,

g.    Tangisan ketidakberdayaan dan kelemahan

h.    Tangisan kemunafikan

i.    Tangisan pinjaman dan sewaan

j.    Tangisan kesepakatan.

  • Sesungguhnya hati ini berada di bawah kekuasaan Allah, Allah berkuasa untuk membolak-balikkan hati manusia, memberinya hidayah dengan cahaya atau menyesatkannya. Kita berdoa agar ditetapkan hati kita untuk berada di atas Agama Allah – subhanahu wa ta’alaa -.Wallahu a’lam, jika ada kesalahan, mohon disampaikan. Jika ada tambahan, mohon diutarakan.

Saudaramu: Abu al-Hasan al-Kadiry

Referensi Kisah: (Buku “Malam Pertama, Setelah itu Air mata” oleh Ahmad Salim Baduwailan)

Referensi lain: (Buku “Menangislah sebagaimana rosulullah dan para sahabat menangis” )

Sumber :http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/aldy-sefan-rezanaldy/istriku-aku-mencintaimu/446328705274

SHARE
Previous articleAku tahu!! Bidadari Tak Turun ke Bumi
Next articleHakekat Keberkahan
Beliau saat ini adalah kandidat Doktor sekaligus peneliti di King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga belajar kepada beberapa ulama’ diantaranya Syaikh Dr. Saleh Fauzan dan Dr Sa’ad Syistry. Selain itu beliau juga merintis Pesantren Masyarakat Hubbul Khoir di Sukoharjo (Solo) Jawa Tengah.