ISTIHSAN

0
619

Imam Syafii rahimahullah termasuk orang yang tegas dalam masalah istihsan (menganggap baik sesuatu). Tidak boleh menetapkan suatu ibadah atau hukum syariat hanya berdasarkan perasaan atau akal. Harus dilandasi dalil baik berupa nash dari Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ maupun dengan qiyas yang shahih. Imam Syafii bahkan membuat bab khusus yang membahas panjang lebar masalah Istihsan dalam kitab beliau yang terkenal, Ar Risalah. Dinukilkan pula bahwa beliau mengatakan:

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

“Siapa yang ber-istihsan berarti telah membuat syari’at (baru).”

Dari sini kelihatan dengan jelas sikap tegas Imam Syafii dalam masalah istihsan. Jangan sampai ada orang bicara dalam masalah agama sekedar berdasar perasaan atau akalnya sehingga akhirnya tersebarlah bid’ah (sesuatu yang dibuat-buat dalam agama). Ini adalah suatu bentuk kehati-hatian. Namun perlu difahami bahwa yang diingkari beliau adalah istihsan yang semata-mata didasari akal atau perasaan atau dalam sesuatu yang tidak ada dalilnya sama sekali. Adapun istihsan yang dilakukan seorang mujtahid atau ulama dalam masalah-masalah yang tidak ada dalil yang sharih/jelas tetapi masih dilandasi dalil yang kuat (meskipun sifatnya umum) maka tidak diingkari. Allahu A’lam.

Faedah Kajian Kitab Ar Risalah bersama syaikh Dr. Saad Syistri hafidzahullah.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 01/06/1439H.