Hukum Menjadi Anggota Koperasi

0
125

Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

Assalamu’alaikum ustadz

Apakah jin juga bisa meninggal dunia layaknya manusia?

Syukron ustad

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Jin sebagaimana manusia bisa meninggal. Hanya Allah dzat yang kekal. Hal ini juga sebagaimana diisyaratkan dalam do’a Nabi:

أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لاَ يَمُوتُ، وَالجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

“Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu yang  tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Dzat yang tidak akan mati. Sementara jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim 2717)

Allahu A’lam.

 

 

 

Assalamu’alaikum ustadz,bagaimana status hukum kegiatan yasinan dan tahlilan,sukhron.

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Membaca surat Yasin dan juga membaca tahlil (la ilaha illallah) adalah sesuatu yang disyariatkan dan berpahala. Tetapi yang tidak disyariatkan adalah mengkhususkan acara atau tatacara tertentu untuk membacanya padahal tidak ada dalil untuk hal tersebut. Misalnya membaca surat Yasin setelah ada kematian atau mengkhususkan malam Jum’at untuk membaca Yasin.

Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Allahu A’lam.

 

 

 

Assalamualaikum ustadz..afwan mau tanya.

Yg pertama..Apakah setiap sholat baik fardhu maupun sunnah..wajib baca doa iftitah setelah takbir dan sebelum baca al fatihah…

Yang ke 2..bagaimana tata cara sholat qobliyah dhuhur 4 rokaat..apakah dengan sekali salam atau 2 kali salam..

Jazzakallohu khoir

Jawab:

Wa’alaikumsalam,

Yang pertama, berkaitan dengan membaca do’a iftitah di awal sholat maka hukumnya sunnah sebagaimana dijelaskan para ulama’. Baik itu sholat fardhu maupun sholat sunnah.

Yang kedua, untuk sholat sunnah 4 rekaat sebelum dhuhur hendaknya dikerjakan dua rekaat salam dan dua rekaat salam. Jika dikerjakan empat rekaat sekaligus dengan satu kali salam maka kata sebagian ulama’ tidak mengapa.  Allahu A’lam.

 

 

 

ustad untuk mengantisipasi biar selalu salat witir saya kerjakan setelah isya itu karena takut kalau ngak bisa bangun untuk solat malam .. tapi kalau mlem bisa bangun saya salat lail tapi ngak witir lagi .. gimana menurut ustad

Jawab:

Mengerjakan sholat witir sebelum tidur atau setelah isyak adalah hal yang diperbolehkan. Apalagi kalau niatnya untuk kehati-hatian agar bisa selalu mengerjakan sholat witir.

Bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah memberi wasiat beberapa sahabatnya untuk witir sebelum tidur, diantaranya pada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Abu Hurairah berkata,

 

أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

 

“Kekasihku yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku tiga wasiat: berpuasa tiga hari setiap bulannya, mengerjakan dua rakaat shalat Dhuha, dan mengerjakan witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1981)

Jika telah mengerjakan witir di awal malam kemudian mengerjakan sholat malam lali maka tidak mengulang witir kembali. Cukup dengan witir yang telah dikerjakan di awal. Allahu A’lam.

 

 

Assalamu’alaikum ustad @Abu Zakariya Sutrisno , saya mau tanya tentang pembelian/penjualan secara kredit.

jika saya berdagang HP, saya membeli 1 juta dan menjual kembali boleh di bayar cicil/kredit tapi harganya diakadkan di awal jadi 1.2 juta. boleh dicicil 6 kali dengan pembayaran tiap bulan. dan sudah sepakat. barang di berikan dan cicilan dimulai.

pertanyaannya, bagaimana cara mengatasi pembeli agar tidak sengaja mengulur atau menelatkan pembayaran. jika menerapkan denda telat pembayaran akan jadi riba (tolong koreksi jika salah) namun jika tidak ada konsekuensi jika telat bayar, maka akan berpotensi dipermainkan oleh konsumen. adakah solusinya? atau pasrah saja jika ditelat-telatkan dalam pembayaran?

terima kasih,

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Ini pertanyaan penting untuk difahami. Syariat Islam penuh dengan nilai-nilai keadilan dan juga membawa maslahat untuk seluruh manusia. Termasuk juga dalam masalah jual beli secara kredit seperti ini, tidak hanya maslahat pihak pembeli saja yang diperhatikan, tetapi juga penjual.

Menerapkan denda pembayaran termasuk riba yang diharamkan. Lalu bagaimana solusinya agar tidak terjadi kredit macet? Banyak solusi lain sebenarnya yang tidak menyelisihi syariat seperti dengan menerapkan jaminan atau adanya penjamin. Jika tidak melunasi kredit pada jangka waktu yang telah disepakati maka barang jaminan bisa dijual atau bisa menagih pada penjamin. Bisa juga dengan mensyaratkan untuk menjadikan barang yang dijual sebagai barang gadaian dan menahan surat-surat pentingnya sedang barangnya bisa dipakai si pembeli. Atau solusi-solusi lainnya yang sesuai selama hal tersebut tidak menyelisihi ketentuan syariat.

Allahu A’lam.

 

 

Assalamualaikum ustadzmau bertanya. jika saya mendapat rejeki/gaji berapa persen yg harus saya keluarkan untuk berinfak/ sodakoh?

Jawab:

Wa’alaikumsalam,

Infaq adalah amalan yang mulia. Allah memerintahkan hambaNya untuk menginfaqkan sebagian dari harta yang dia miliki.  Allah akan melipatgandakan balasan atau harta orang-orang yang berinfaq di jalanNya. Allah berfirman,

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah: 261)

Infaq bentuknya bermacam-macam, mulai dari yang wajib seperti zakat sampai yang sunnah seperti sedekah untuk fakir miskin dan lainnya. Zakat diwajibkan atas harta-harta tertentu yang telah ditetapkan oleh syariat dan harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti telah sampai nishab (batasan minimal terkena zakat) dan haul (berlalu satu tahun).

Rejeki atau gaji yang didapatkan seseorang (baik rutin atau tidak rutin) pada asalnya tidak ada kewajiban zakat, menurut pendapat yang rajih di kalangan para ulama’. Kecuali kalau gaji tersebut disimpan atau terkumpul dan telah mencapai nisab dan haul maka wajib dizakati sebagai mana zakat mata uang (2.5%). Ini untuk masalah zakat, adapun untuk sedekah maka dia bisa mengeluarkan sesuai dengan kemampuannya. Tidak ada aturan khusus untuk sedekah. Allahu A’lam.

 

 

Bismillah…

Afwan ustadz, mau tanya

Bolehkan makan dari makanan yg diperoleh dari acara/hajat kejawen (misal : 7harian, 40, 100an, acara bersih desa, acara malam 1suro) ?

 

Jawab:

Untuk kehati-hatian dan juga sebagai bentuk ketidaksetujuan dengan acara-acara seperti itu hendaknya tidak menerima dan tidak memakan makanan dari acara-acara seperti itu. Allahu A’lam.

 

 

 

Assalamualaikum..Afwan ustadz, mohon penjelasannya.. ketika kita membuka WA banyak sekali saudara seiman mengucapkan salam. Apakah wajib kita menjawab dengan tulisan atau cukup dengan lisan saja, mengingat banyaknya salam di group2

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Secara umum jika ada yang mengucapkan salam kepada kita maka kita wajib menjawabnya. Allah berfirman Allah,

 

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (QS. An-Nisa: 86).

Membalas salam bisa dengan lisan atau dengan tulisan, yang penting menjawab salamnya. Dan usahakan membalas dengan cara yang terbaik.

Namun, jika salam tersebut ditujukan untuk sekumpulan orang atau disampaikan di group kemudian sudah ada yang yang menjawab maka yang lain gugur kewajibannya.  Tidak harus setiap orang menjawab salam tersebut. Allahu A’lam.

 

 

 

assalamu’alaikum ustadz,

sy mau tanya tentang puasa 3 hari di tanggal 11,12 dan 13 di setiap bulannya,

“pertanyaan-nya apakah memang harus di lakukan di tanggal tersebut?

atau bagaimana ustadz?

jazakallah khoir

Jawab:

Wa’alaikumsalam,

Puasa tiga hari pada tiap bulan bisa dikerjakan tanggal berapa saja. Hal ini sebagaimana keumuman dalam hadits Abu Hurairah:

أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku tiga wasiat: berpuasa tiga hari setiap bulannya, mengerjakan dua rakaat shalat Dhuha, dan mengerjakan witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1981)

Tidak harus pada ayyamul biid (hari-hari bulan bersinar terang) yaitu tanggal 13, 14 dan 15 bulan Hijriah. Tetapi jika dikerjakan pada hari-hari ini itu lebih utama. Sebagaimana dalam hadits Abu Dzar, Rasulullah bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

‘ Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 .” (HR. Tirmidzi no. 761, Albani mengatakan hasan shahih)

Allahu A’lam.

 

 

 

 

Assalamualaikum,ustadz apakah hadist yg menerangkan,tentang memotong rambut anak pda hari ke7 kemudian bersedekah dgn emas seberat rambut itu shohih?klo shohih apakah boleh sedekahnya dikeluarkan dlm bentuk uang?syukron jazaakallahu khairon.

 

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Ada beberapa riwayat tentang memotong rambut bayi kemudian bersedekah dengan perak (bukan emas) seberat rambut yang dipotong. Diantaranya hadits dari ‘Ali bin Abu Thalib ia berkata,

عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْحَسَنِ بِشَاةٍ وَقَالَ « يَا فَاطِمَةُ احْلِقِى رَأْسَهُ وَتَصَدَّقِى بِزِنَةِ شَعْرِهِ فِضَّةً ». قَالَ فَوَزَنَتْهُ فَكَانَ وَزْنُهُ دِرْهَمًا أَوْ بَعْضَ دِرْهَمٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Hasan dengan seekor kambing.” Kemudian beliau bersabda, “Wahai Fatimah, gundullah rambutnya lalu sedekahkanlah perak seberat rambutnya.” Ali berkata, “Aku kemudian menimbang rambutnya, dan beratnya sekadar uang satu dirham atau sebagiannya.” (HR. Tirmidzi no. 1519, dia berkata: Hadits ini derajatnya hasan gharib dan sanadnya tidak bersambung)

Dijelaskan oleh sebagian para ulama’ bahwa riwayat-tersebut tersebut ada kelemahannya. Namun secara umum dengan mempertimbangkan dalil-dalil yang ada yang banyak, ulama’ berpendapat bahwa mencukur rambut bayi kemudian bersedekah dengan perak seberat rambut yang dicukur adalah sesuatu yang disunnahkan. Boleh juga bersedekah dengan uang senilai dengan harga perak. Allahu A’lam.

 

Allahu A’lam.

 

 

 

Ustad @Abu Zakariya Sutrisno hafidzohulloh

Apa boleh di mesjid mengumumkan barang yang hilang? Atau mengumumkan jenis pengumuman? Barokallohu fiik

Jawab:

Pada asalnya masjid didirikan untuk tempat ibadah baik untuk sholat, membaca al Qur’an dan lainnya. Untuk itu dilarang melakukan transaksi jual beli atau hal lainnya yang melalaikan di masjid. Termasuk juga mengumumkan barang-barang yang hilang di masjid. Rasulullah bersabda,

مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لَا رَدَّهَا اللهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا

“Barangsiapa mendengar seseorang mengumumkan barang hilang di masjid maka katakanlah, semoga Allah tidak mengembalikannya atasmu karena sesungguhnya masjid bukan dibangun untuk ini.” (HR. Muslim no. 568)

Hadits ini dengan jelas mengisyaratkan dilarang mengumumkan barang-barang hilang di dalam masjid. Begitu juga dengan pengumuman-pengumuman lainnya yang dapat mengganggu atau melalaikan dari ibadah maka hendaknya jangan dilakukan di masjid. Adapun jika dilakukan di luar masjid atau di luar tembok masjid maka diperbolehkan sebagaimana dijelaskan para ulama.

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

Assalamualaikum ustad,bagaimana cara mengganti sholat jumat dikarenakan dalam perjalanan? Mohon jawabannya ustad wassalamualaikum

Jawab:

Wa’alaikumsalam,

Jika seseorang dalam perjalanan atau sedang safar maka gugur baginya kewajiban sholat Jum’at sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama’. Disebutkan dalam riwayat Ibnu Umar, Rasulullah bersabda:

لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمُعَةٌ

“Tidak ada bagi musafir sholat Jum’at.” (HR. Daruquthni tetapi sanadnya lemah)

Hadits diatas sanadnya lemah tetapi para ulama’ sepakat tentang gugurnya kewajiban Jum’at bagi orang yang safar sebagaimana hal ini juga diisyaratkan dalam banyak dalil yang lainnya.

Dia cukup mengganti sholat dhuhur dan karena dia dalam keadaan safar maka boleh mengqashar dua rekaat. Jika mendapatkan jama’ah sholat Jum’at (orang-orang yang mukim) maka tidak mengapa ikut dan sholat Jum’atnya sah. Tetapi tidak disyariatkan sekumpulan orang-orang yang safar mengadakan sholat Jum’at sendiri karena hal ini tidak pernah dicontohkan. Mereka cukup mengganti dengan sholat dhuhur.

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

 

Uzt bolehkah niat speti niat shalat diganti dgn bhs indo misal “saya niat shalat dhuhur krnmu ya allah” krn selama ini yg diajar oleh guru2 disekolah niatnya pke bahasa arab dn panjang misal “usholli fardhu dhuhri arbaa raka’atin kiblati adaan lillahi ta’ala…? Dan dri tuntunan nabi seperti apa?

Jawab:

Niat letaknya dalam hati, tidak perlu dilafadzkan karena hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Hukum asal dari ibadah adala tauqify, mengikuti dalil yang ada. Tidak boleh mengadakan hal-hal baru dalam agama yang tidak ada dalilnya.

Rosulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

 

 

Assalamu’alaykum..

Ana nitip pertanyaan nih..

Lebih afdhol mana shalat sunnah rawatib dg shalat sunnah tahajud??

Jawab:

Wa’alaikumsalam.

Keduanya adalah amalan yang utama dan waktunya juga tidak berbenturan. Sholat sunnah rawatib dikerjakan setelah selesai sholat fardhu sedang sholat tahajjud atau sholat malam dikerjalan malam hari. Hendaknya mengerjakan sholat-sholat sunnah ini sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Rasulullah selalu menjaga sholat sunnah rawatib, sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar: ”Saya menghafal dari Rasulullah 10 rekaat, dan dua rekaat sebelum dhuhur, dua rekaat setelahnya, dan dua rekaat setelah magrib di rumah, dan dua rekaat setelah isya’ di rumah, dan dua rekaat sebelum subuh.” (HR. Bukhari 996, Muslim 745)

Begitu juga dengan sholat malam atau sholat tahajjud adalah amalan yang utama. Allah berfirman,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Israa’: 79)

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

 

 

Assalamu’alaikum. Ustadz saya mau nanya terkait bank, apakah kerja dibank itu hukumnya haram? mohon jawabannya, terima kasih.

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya: “Apa hukum Islam terhadap orang yang kerja di bank dan menaruh harta mereka di bank tersebut tanpa mengambil bunganya?”

Beliau menjawab: Tidak diragukan bahwa kerja di bank yang bermuammalah dengan riba tidak diperbolehkan karena hal ini termasuk membantu dalam dosa dan permusuhan. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Ma’idah: 2)

Dan telah tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

أنه لعن آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه، وقال: هم سواء

Beliau melaknat pemakan (yang mengambil) riba, pemberinya, penulisnya dan kedua saksinya. Beliau juga bersabda: ”mereka sama”. (HR Muslim)

Adapun menaruh harta di bank dengan mengambil keuntungan tiap bulan atau tiap tahun maka itu termasuk riba yang diharamkan berdasarkan ijma’ para ulama. Adapun jika menaruh hartanya dengan tidak mengambil keuntungan maka yang lebih hati-hati adalah meninggalkannya kecuali kalau darurat jika bank bermuammalah dengan riba. Menaruh harta di mereka meskipun dengan tidak mengambil keuntungan maka itu termasuk membantu mereka dalam usaha ribawi mereka. Maka ditakutkan pelakunya (yang menaruh harta di bank) termasuk kelompok yang membantu dalam dosa dan permusuhkan meskipun dia tidak menghendaki hal itu.

Wajib untuk berhati-hati dengan apa yang Allah haramkan dan menempuh cara yang selamat dalam menjaga harta dan pengelolaannya. Semoga Allah memberi taufik kaum muslimin atas apa-apa yang mendatangkan kebahagiaan, kemuliaan dan kesuksesan mereka. Dan semoga Allah memberi kemudahan mereka untuk mengadakan bank-bank Islami yang selamat dari riba. Sesungguhnya Allah adalah Penolong yang Mahamampu. Sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga serta sahabatnya.

(Majmu’ Fatawa Ibn Baz 19/150)

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Assalamu’alaikum ustad, ana pengen tanya, Kalo berbohong saat puasa untuk menutupi bahwa dia sedang berpuasa boleh ga akh ?

Misalkan ana lagi puasa lalu, ada seseorang nanya, antum lagi puasa ga ? Nah ana kan ga pengen ya amalan ana diketahui orang, boleh ga kalo jawabnya ngebohong ?

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Tidak perlu berbohong dalam hal ini. Katakan apa adanya Anda sedang puasa, itu bukan sesuatu yang salah atau dilarang. Yang dilarang adalah memamerkan amalan atau ibadah. Menyembunyikan amalan pada asalnya adalah hal yang baik, tetapi tentu dengan cara-cara yang dibernarkan syariat. Tidak perlu berbohong.

Bahkan kadangkala kita boleh memberitahukan amalan kita jika memang ada alasan tertentu, ada maslahat atau dengan tujuan untuk mengajak dalam kebaikan. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: “Puasa adalah perisai, jika salah seorang diantara kalian berpuasa maka jangan berkata kotor atau berteriak-teriak. Jika ada seorang yang mencela atau memerangi maka hendaknya dia berkata “Saya sedang berpuasa”. (HR. Bukhari 1904 dan Muslim 1151)

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

 

 

 

Pertanyaan tentang nasab dan orang tua Nabi Muhammad

Ustadz, ada dalil bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam terlahir dari nasab yang suci. Sementara ada dalil juga yang menyatakan bahwa orang tua Nabi shallallahu’alaihiwasallam di neraka. Bagaimana menyikapinya?

Jawab:

Sebelumnya perlu ditekankan dahulu bahwa kita sebagai seorang muslim wajib mencintai dan memuliakan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, serta para sahabatnya. Kita juga wajib membenarkan seluruh apa yang beliau sampaikan karena beliau adalah utusan Allah dan beliau tidak menyampaikan kecuali dari wahyu yang Allah berikan pada beliau. Beliau tidak menyampaikan dari hawa nafsu. Kita juga yakin seyakin-yakinya bahwa tidak ada pertentangan dari apa yang beliau sampaikan baik dari Al Qur’an maupun dari as Sunnah karena semuanya pada asalnya adalah dari Allah.

Adapun tentang nasab, Nabi Muhammad dilahirkan dari keturunan orang-orang pilihan dan dihormati kaumnya. Rasulullah bersabda,

بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ، قَرْنًا فَقَرْنًا، حَتَّى كُنْتُ مِنَ القَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ

“Aku diutus dari sebaik-baik kurun (generasi) bani Adam, kurun yang satu lalu yang berikutnya, hingga sampai pada kurun dimana aku ada padanya.” (HR. Bukhari 3557)

Beliau juga bersabda,

إِنَّ اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

“Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il, dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy, dan memilih aku dari keturunan Bani Hasyim.” (HR. Muslim 2276)

Kedua hadits telah menunjukkan dengan jelas bahwa beliau dilahirkan dari keturunan orang-orang yang dihormati dan pilihan. Bukan keturunan orang-orang bejat dan hina di tengah masyarakat. Namun perlu diperhatikan bahwa hadits-hadits ini tidak menunjukkan bahwa seluruh nenek moyang Rasulullah (termasuk kedua orang tua beliau) adalah orang-orang yang beriman atau muslim. Bahkan Rasulullah sendiri telah menjelaskan tentang kondisi kedua orang tua beliau.

Yang pertama tentang ayah beliau, disebutkan dalam sebuah riwayat shahih:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِيْ؟ قَالَ: فِي النَّارِ. فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

“Dari Anas, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka” (HR. Muslim 203)

 

Adapun tentang ibu beliau, diriwayatkan dari Abu Hurairah:

زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: «اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ»

“Nabi pernah menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis dan membuat orang yang berada di sampingnya juga turut menangis kemudian beliau bersabda, ‘Saya tadi meminta izin kepada Rabbku untuk memohon ampun baginya (ibunya) tetapi saya tidak diberi izin, dan saya meminta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya (ibunya) kemudian Allah memberiku izin. Berziarahlah karena (ziarah kubur) dapat mengingatkan kematian.’” (HR. Muslim 976)

Kedua hadits shahih ini menunjukkan dengan jelas tentang kondisi kedua orang tua Rasulullah. Pada hadits yang pertama Rasulullah mengabarkan bahwa ayah beliau di neraka. Dan pada hadits yang kedua Rasulullah mengabarkan bahwa beliau tidak diizinkan memohonkan ampun untuk ibunya. Dijelaskan dalam riwayat bahwa peristiwa ini yang menjadi asbabu nuzulnya firman Allah ta’ala:

مَا كَانَ لِلنّبِيّ وَالّذِينَ آمَنُوَاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوَاْ أُوْلِي قُرْبَىَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيّنَ لَهُمْ أَنّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At Taubah: 113).

Tidak boleh menolak dalil-dalil ini hanya bersadar pada logika atau perasaan semata. Atau menolaknya dengan dalil-dalil yang lemah atau mengikuti pendapat yang aneh dari sebagian ulama’. Kedua hadits yang terakhir ini juga tidak bertentangan kedua kedua hadits shahih sebelumnya.   Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

Assalamu’alaukum ustadz @Abu Zakariya Sutrisno ijin bertanya tentang siroh, sebagai penambah ilmu dan wawasan.

  1. apakah benar rasul sebelum nabi muhammad hanya di untus untuk kaumnya saja?

misal nabi isa hanya di utus dan mengajar hanya orang yahudi di palestina (yang sebagian jadi nasrani pada akhirnya)

  1. apakah manusia di balahan bumi lain tidak di ajarkan agama tauhid? misal di afrika atau eropa?
  2. apakah di mekkah sebelum nabi muhammad tidak ada yang beragama tauhid? jika ada ikut siapakah nabinya? apakah masih ikut ajaran nabi ismail dan ibrohim?
  3. lantas apakah manusia yang tinggal dipedalaman dan tidak sampai pada mereka pelajaran tauhid dikarenakan moyang mereka tidak mengajarkannya (misal oleh sebab karena moyang mereka yang telah menyimpang) dan belum ada pengajar tauhid yang datang. apakah mereka juga akan di neraka?

Allahu A’lam.

Jawab:

 

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

 

Assalamualaikum, bila paman kita meninggal dunia, dia nasrani, apa yg kita ucapkan ?

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Ulama’ berbeda pendapat tentang hukum berta’ziah (bela sungkawa) untuk non-muslim. Sebagian ulama membolehkan, apalagi jika dilihat hal tersebut ada maslahat.

Hal ini yang disampaikan oleh Lajnah Da’imah dalam salah satu fatwanya: “Jika maksud dari ta’ziah tadi adalah membujuk mereka (agar suka atau masuk) ke dalam agama Islam, maka hal ini diperbolehkan, dan ini merupakan bagian dari tujuan syariat. Demikian juga apabila dalam rangka menghindari kemudharatan atas dirinya atau kaum muslimin, karena kemaslahatan yang sifatnya umum bisa mentolelir kemadharatan yang hanya sifatnya parsial.” (Fatawa Lajnah Da’imah 9/132)

Adapun untuk ucapan tidak ada aturan khusus. Intinya ucapkan perkataan untuk menghibur yang sedang berduka ditinggal mati. Namun, jelas tidak boleh mendoakan ampunan bagi orang yang mati diatas kekafiran (lihat QS Taubah: 113). Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

 

Assalamualaikum, saya mau bertanya, pekerjaan saya sebagai sales yang bekerja keluar kota dengan waktu seminggu, bagaimana sholat yg lebih baik saya lakukan, dengan mengqosar dan menjamaknya atau mengikuti sholat diwaktunya? Mhn penjelasannya

Jawab:

Wa’alaikumsalam,

Jika telah sampai pada kota atau tempat yang dituju dan mukim disitu lebih dari empat hari maka ikuti jama’ah sholat pada waktunya masing-masing. Tidak menjamak atau mengqashar. Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

 

 

Assalammualaikum Ustadz…

Bagaimana cara agar mudah menghapal al-qur’an?

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Pertama perlu difahami bahwa Allah menurunkan Al Qur’an secara berangsur-ansur dan menjadikannya mudah untuk dihafal dan dipelajari. Allah berfirman,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qomar: 17)

Hal utama yang harus diperhatikan untuk menghafal al Qur’an adalah keikhlasan dan kesungguhan. Ikhlaskan niat menghafal al Qur’an untuk menggapa ridha Allah dan iringi dengan usaha yang nyata, jangan bermalas-malasan untuk menghafal.  Hafalkan sedikit demi sedikit dan terus dimurajaah (ulang-ulang).  Lebih baik lagi menghafal dengan dibimbing guru atau ustadz. Selain itu hendaknya banyak berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam menghafal.

Jika Allah telah menganugerahkan kepada kita hafalan al Qur’an maka hendaknya kita bersemangat untuk menjaganya. Jangan sampai kita lengah untuk memuraja’ah hafalan yang telah kita miliki karena hafalan tersebut akan cepat sekali hilang dari ingatan kita. Rasulullah bersabda,

تَعَاهَدُوْا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ اْلإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

“Sering-seringlah kalian (membaca) al Qur’an ini, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sesunggunya dia (hafalan al Qur’an) lebih cepat lepas daripada onta dari tali kekangnya. “ (HR Bukhari dan Muslim, lafadz milik Muslim no hadits 791)

Allahu A’lam

Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

 

SUMUR KEMASUKAN BANGKAI

Assalamualikum ustaz sy may bertanya. Jika seekor kucing jatuh kedalam sumur yg dalam dan airnya banyak. Kemudian kucing itu mati dan air sumur tersebut berubah baunya . Apakah air sumur tersebut mash boleh di gunakan untuk bersuci, mandi, minum dan keperluan lainnya. Terimakasih ustaz.

Jawab:

Wa’alaikumsalam, pada asalnya air hukumnya adalah suci kecuali jika air berubah (baik bau, rasa, atau warnanya)  karena sesuatu yang najis maka air tersebut berubah menjadi najis.  Jika sumur tersebut berubah baunya karena kemasukan bangkai maka dia najis. Untuk mensucikannya maka perlu dikuras.

Adapun jika tidak berubah baik bau, rasa atau warnanya maka tetap suci. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ ؟ وَهِيَ بِئْرٌ يُلْقَى فِيهَا الْحِيَضُ وَلُحُومُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

“Dikatakan pada Rasulullah: Wahai Rasulullah apakah kita boleh berwudhu dari sumur budha’ah, yaitu sumur yang dimasukkan padanya kain bekas haidh, daging anjing dan kotoran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: sesungguhnya air itu suci dan tidak menajiskannya sesuatu apapun. ” (HR. Tirmidzi 66, dishahihkan Albani)

Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah:

الصحيح أن الماء لا ينجس إلا بالتغير ؛ لأن الحكم يدور مع علته وجودا وعدما ، فإذا وجدت النجاسة صار الماء نجسا

“Yang shahih bahwa air tidak menjadi najis kecuali jika disertai perubahan. Hal ini karena hukum itu berkisar pada illah (sebabnya) baik ada atau tidak. Jika ada ada kenajisan maka airnya menjadi najis.” (Syarh Al Kaafi, 5/23)

Allahu A’lam

Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

 

 

 

Assalamu’alaikum Ustad. Di masyarakat kita banyak yang meng-adzan-i bayi yg baru lahir. Begitu pula meng-adzan-i dan meng-iqamah-i orang yg akan ditutup liang kuburnya. Mohon penjelasannya apakah hal tersebut diajarkan di jaman nabi dan sahabat?  Jika ada, mohon dalilnya dijelaskan. Syukron

Jawab:

Wa’alaikumsalam,

Pertama untuk masalah mengadzankan bayi yang baru lahir maka khilaf diantara para ulama’. Sebagian ulama’ mengatakan hal tersebut diajurkan seperti syaikh Bin Baz, syaikh Fauzan dan lainnya.

Adapun untuk adzan saat mengubur mayit maka para ulama’ mengatakan hal tersebut tidak ada dalil yang dapat dijadikan landasan. Tidak ada anjuran untuk mengadzani mayit yang akan dikubur. Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

Assalamualaikum ustaz  mau nanya. Bagaimana hukum baju yg terkena air yg tercampur dengan najis, setelah beberapa saat baju tersebut kering dan tidak ada lagi bekas air yg tercampur najis d baju tersebut. Apakh baju tersebut kembali suci dan bisa d pake lagi walaupun blm d cuci?

 

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Untuk kehati-hatian hendaknya dicuci agar yakin hilang najisnya.

 

Meskipun secara asal jika najis itu telah hilang baik karena dicuci atau karena menguap kering dan tidak tersisa najisnya maka pakaian itu membali suci. Hukum atas segala sesuatu tergantung illah (sebabnya). Dalam hal ini pakaian itu najis karena ada najisnya. Maka jika najis itu hilang (apapun caranya) maka pakaian itu kembali suci. Allahu a’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

IMAM LUPA SUJUD

Jika dalam sholat imam kelupaan 1 sujud tapi cuma di ganti dgn sujud sahwi apa yg harus dilakukan ma’mum? Haruskah menambah sendiri 1 roka’at lagi ataukah ikut salam bersama Imam?

Sedangkan kita tahu bahwa sujud adalah termasuk rukun sholat..

Jawab:

Sujud adalah salah satu rukun sholat maka tidak cukup diganti dengan sujud sahwi. Jika imam lupa sujud maka hendaknya diingatkan. Jika setelah diingatkan imam tetap tidak ingat atau terus sholat sampai selesai maka setelah selesai sholat diberitahu bahwa ada sujud terlewatkan dan tidak cukup diganti dengan sujud sahwi. Imam kemudian mengimami lagi untuk menambah satu rekaat kemudian sujud sahwi di akhir. Jika imam bersikukuh tidak mau sholat lagi maka hendaknya mengulang sholat sendiri atau bersama jamaah yang lainnya.

Intinya jika ada rukun yang terlewatkan atau jumlah rekaat kurang maka sholat harus dilengkapi, tidak cukup dengan sujud sahwi. Dalam kasus sholat berjamaah dan sudah terlanjut selesai salam maka tidak mengapa makmum mengingatkan imam akan hal tersebut kemudian menambah sholat untuk melengkapi yang kurang. Diriwayatkan dalam hadits Abu Hurairah, ia berkata,

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ إِمَّا الظُّهْرَ وَإِمَّا الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَتَى جِذْعًا فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَاسْتَنَدَ إِلَيْهَا مُغْضَبًا وَفِي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ فَهَابَا أَنْ يَتَكَلَّمَا وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ فَقَامَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقُصِرَتْ الصَّلَاةُ أَمْ نَسِيتَ فَنَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمِينًا وَشِمَالًا فَقَالَ مَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ قَالُوا صَدَقَ لَمْ تُصَلِّ إِلَّا رَكْعَتَيْنِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat pada salah satu dari dua shalat petang, mungkin shalat Zhuhur atau Ashar. Namun pada raka’at kedua, beliau sudah mengucapkan salam. Kemudian beliau pergi ke sebatang pohon kurma di arah kiblat masjid, lalu beliau bersandar ke pohon tersebut dalam keadaan marah. Di antara jamaah terdapat Abu Bakar dan Umar, namun keduanya takut berbicara. Orang-orang yang suka cepat-cepat telah keluar sambil berujar, “Shalat telah diqoshor (dipendekkan).” Sekonyong-konyong Dzul Yadain berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah shalat dipendekkan ataukah anda lupa?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok ke kanan dan ke kiri, lalu bersabda, “Betulkan apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain tadi?” Jawab mereka, “Betul, wahai Rasulullah. Engkau shalat hanya dua rakaat.” Lalu beliau shalat dua rakaat lagi, lalu memberi salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

TENTANG SURAT AL FATIHAH
Maaf, Ustad.

  1. Apabila kita masbuk dan tertinggal surah Al-Fatihah (sebagian atau seluruhnya), haruskah mengulang rakaat itu?
  2. Membaca amin setelah surah Al-Fatihah itu di dalam shalat saja atau di luar shalat juga?
  3. Berkenaan dengan hadits yang menjelaskan Allah menjawab bacaan Al-Fatihah kita di dalam shalat, bolehkah membacanya tidak diwaqafkan di setiap ayat.

Jawab:

  1. Masalah ini khilaf diatara para ulama’. Allahu A’lam saya cenderung pada pendapat yang mengatakan bahwa jika ada orang yang masbuk tetapi masih mendapatkan rukuk bersama imam maka dia mendapatkan rekaat tersebut. Ini adalah pendapat jumhur ulama’ dan didasari atas beberapa dalil. Diantaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلاَ تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

“Jika salah seorang di antara kalian pergi shalat dan kami sedang sujud, maka ikutlah sujud. Namun tidak dianggap sama sekali mendapat satu raka’at. Siapa yang mendapatkan satu raka’at, maka berarti ia mendapati shalat.” (HR. Abu Daud no. 893 dishahihkan Albani)

  1. Amien artinya adalah “Ya Allah kabulkanlah”. Membacanya setelah surat Al Fatihah adalah sunnah baik di dalam sholat maupun di luar sholat. Hanya di dalam sholat lebih ditekankan. Lihat penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya di akhir pembahasan surat Al Fatihah.
  2. Membaca surat Al Fatihah hendaknya berhenti pada tiap ayat karena demikianlah Rasulullah membacanya. Adapun jika disambung maka tidak mengapa karena membaca dengan berhenti bukan menjadi suatu kewajiban. Lihat penjelasan syaikh Muhammad Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ (3/65).

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

MASALAH ISBAL
Ustadz apakah boleh jika seseorang memegang pendapat bahwa isbal itu tidak haram akan tetapi orang tersebut dalam kesehariannya tidak isbal utk kehati-hatian?

Jawab:

Yang menjadi landasan kita beragama adalah dalil, bukan perasaan atau perkataan si fulan atau si fulan. Tentang masalah isbal (menjulurkan pakaian melebihi mata kaki) ada banyak dalil yang melarangnya.
Diantaranya Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam,

ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka.” (HR. Bukhari 5787)

Beliau bersabda,

لا ينظر الله يوم القيامة إلى من جر إزاره بطراً

“Pada hari Kiamat nanti Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong.” (HR. Bukhari 5788)

Kedua hadits shahih ini dan juga dalil-dalil yang lainnya jelas menunjukkan bahwa isbal adalah hal yang TERLARANG. Jika isbal tersebut disertai sombong maka ulama sepakat bahwa hal tersebut HARAM. Adapun jika tidak disertai sombong maka sebagian ulama’ berpedapat larangan tersebut hanya bersifat MAKRUH sedang sebagian ulama’ yang lainnya mengatakan TETAP HARAM.

Dari sini jelas bahwa isbal adalah perkarang yang dilarang baik itu haram atau minimal makruh. Setiap muslim hendaknya selalu bersikap hati-hati, apalagi dalil-dalil yang berisi ancaman pelaku isbal banyak sekali.  Hendaknya berusaha semaksimal mungkin mengerjalan apa-apa yang Rasulullah perintahkan dan meninggalkan apa yang beliau larang. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari api neraka.

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

MENELAN AIR MATA DALAM SHOLAT

assalamu’alaikum ustadz, jika dalam sholat kita menangis lalu air mata itu masuk ke mulut kita (tertelan) batalkah sholat kita?

Jawab:

Wa’alaikumsalam.  Orang yang khusyuk dalam sholatnya dan kemudian menangis maka hal ini diperbolehkan. Bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah juga menangis dalam sholatnya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Syikhkhir dia berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.” (HR. Abu Daud no. 904, dishahihkan Albani)

Adapun tentang air mata yang tertelan, yang saya fahami jika hal tersebut tidak disengaja maka tidak membatalkan sholat. Allahu A’lam. Semoga Allah menjadikan kita orang yang khusyuk dalam sholat. Amien.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

MENGHADIRI PERNIKAHAN NON MUSLIM

Assalamualikum ustaz mau nanya bagaimana hukum menghadiri pernikhan non muslim. Trrimakasih

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Ulama’ berbeda pendapat terkait menghadiri pernikakan non muslim atau orang kafir. Sebagian ulama’ melarang, sebagian membolehkan dan sebagian membolehkan dengan syarat ada maslahat syar’i.

Allahu A’lam saya sendiri cenderung pada pendapat yang membolehkan karena pada asalnya ini adalah hal yang sifatnya duniawi. Pendapat ini yang dikuatkan oleh beberapa ulama’ zaman ini diantaranya Syaikh Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata saat menjelaskan tentang undangan pernikahan:

فالكافر لا تجب إجابته، فلو كان عندك جار من الكفار، وحصل عنده زواج، ودعاك إلى وليمته، فإن إجابته لا تجب، ولكنها تجوز؛ لأن إجابة دعوة الكافر جائزة، إلا فيما يقصد به الشعائر الدينية، فإنه تحرم الإجابة إليه، مثل أعيادهم

“Adapun orang kafir tidak wajib menjawab (undangan pernikahan)nya. Kalau misalnya kamu memiliki tentangga kafir dan menyelenggarakan pesta pernihakan kemudian mengundangmu untuk menghadiri pesta pernikakannya maka memenuhinya tidak wajib tetapi diperbolehkan. Sesungguhnya memenuhi undangan orang kafir adalah boleh, kecuali jika dimaksudkan dengannya syi’ar-syi’ar keagamaan maka haram memenuhinya seperti perayaan-perayaan (agama mereka).” (Syarhul Mumti’, 12/322)

Tetapi perlu diperhatikan jika dalam pesta pernikahan tersebut ada kemungkaran-kemungkaran seperti minuman keras atau kemaksiatan yang lainnya maka tidak boleh menghadirinya. Bahkan seandainya yang mengundang orang muslim tetapi ada kemungkaran-kemungkaran seperti itu maka juga tidak diperbolehkan menghadiri. Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

TANDA SELESAI HAIDH

Assalamualaikum ust, sy mau bertnya ttg slesainya masa haid. Sy mendapati kalau d pmbalut sdh tdk kluar flek/darah namun jk buang  kecil ada lendir coklat yg ikut kluar brsama air seni. Apakah lendir yg keluar ini termasuk msh masa haid?

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Selesainya masa haidh bisa dikenali dengan dua tanda:

  1. Berhentinya darah haidh atau keringnya daerah kewanitaan (jufuf). Misalkan ditempelkan kapas atau pembalut maka tidak ada darah atau bercak lagi.
  2. Keluarnya cairan berwarna putih (al qashshatul baidha’).

Jika salah satu dari kedua tanda ini sudah muncul maka berarti sudah selesai masa haidh. Misalnya setelah suci itu keluar lagi cairan berwarna coklat, keruh atau yang lainnya maka tidak dianggap. Hal ini berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha:

كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا.

“Kami dahulu tidak menghiraukan flek kecoklatan dan kekuningan yang keluar setelah masa suci”. (HR. Abu Daud no. 307 dan dishahihkan Albani)

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

SHOLAT DI RUMAH KARENA IMAM MASJID ORANG NU?
Assalamualaikum, ustad.. Sya mw bertanya, manakah yg lebih baik, suami sholat berjamaah di mushola dekat rumah, atau jd imam istrinya drmah. Dan bagaima jika suami memilih jdi imam istrinya drmah dri pda di mushola di krenakan imam di mushola islam NU sdngkan si suami Muhammadiyah (Alasannya juga krna imamnya ga enak, ga bgus, NU dzkirnya lama, dll.)

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Ada perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang wajibnya laki-laki sholat berjamaah di masjid. Sebagian mengatakan wajib, sebagian mengatakan sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan). Pendapat yang mengatakan wajib lebih mendekati kehati-hatian dan dalilnya juga sangat banyak sekali. Diantara dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada uzur.” (Hr. Abu Daud, dishahihkan oleh Albani)

Adapun jika yang ditanyakan lebih baik mana seorang suami atau laki-laki sholat di masjid atau di rumah maka jelas lebih baik di masjid.   Tidak selayaknya meninggalkan sholat berjamaah di masjid dengan alas an mengimami istri di rumah atau hanya gara-gara imamnya beda ormas. NU dan Muhammadiyah adalah dua ormas besar di Indonesia. Meskipun ada beberapa perbedaan dalam pemahaman tetapi “Islam”nya tetap sama. Islam itu hanya ada satu. Jadi islamnya NU, Muhammadiyah, Arab atau non Arab, semuanya sama yaitu Islam yang dibawa Nabi Muhammad yang diturukan untuk seluruh umat manusia. Yang berbeda adalah pemahaman. Selama seseorang itu muslim dan tidak melakukan kesyirikan atau kekufuran yang mengeluarkan dari agama maka sah sholat dibelakangnya. Jadi tidak masalah sholat di belakang orang yang berbeda madzab, pemahaman apalagi sekedar berbeda ormas.

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

 

SUAMI CUEK, DIAM-DIAM DISUKAI LAKI-LAKI LAIN

Biissmiilah…… Assalamu’alaikum … Ustadz saya mau tanya .. begini ustadz …. Gemana hukumnya seorang istri yg sudah 7 thn ta kumpul sama suami …. ?  Dan suami juga cuek … Dan si istri  ada bimbang karena ada ke salah pahaman.. Dan si istri ada yg menyukai lagi tpi secara diam diam itu berdua ga mau di ketahui orang … Hukumnya grmna ustadz dosakh itu …

Jawab:

Wa’alaikumsalam,

Saling memahami dan kejujuran adalah satu satu pilar menjaga keutuhan rumah tangga. Sebaliknya, saling tidak peduli dan melakukan khianat adalah sebab kerusakan rumah tangga. Jika ada masalah atau kesalahfahaman hendaknya dibicarakan baik-baik atau mencari mediator untuk membantu memecahkan masalah yang ada.

Jika yang dimaksud dalam pertanyaan bahwa si istri memiliki hubungan dengan laki-laki lain secara diam-diam maka ini adalah bentuk khianat dalam rumah tangga. Ini adalah PERBUATAN DOSA sekaligus perbuatan HINA. Apabila perbuatan itu diketahui suaminya atau masyarakat kira-kira apakah si istri akan malu?? Pasti malu. Dan itulah tanda bahwa perbuatan itu adalah perbuatan yang hina. Dalam syariat Islam seorang istri tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suami. Lalu bagaimana jika sampai punya hubungan dengan lak-laki lain?? Andaikata di suami punya hubungan dengan wanita lain apakah dirinya juga akan ridha? Dan bisa jadi suaminya cuek atau tidak peduli dengan dirinya karena dosa dan juga pengkhianatan yang dilakukan oleh si istri. Meskipun mungkin sekarang tidak ada orang lain yang mengetahui, ketahuilah bahwa Allah Mahatahu. Allah Mahatahu dan Mahamampu menurunkan adzab bagi orang-orang yang melakukan khianat, apalagi khianat dalam rumah tangga.

Jika yang dimasud dalam pertanyaan bahwa baru sebatas saling suka dan belum memiliki hubungan khusus maka hati-hati, bisa jadi ini adalah awal dari tipu daya syaitan untuk menjerumuskan Anda dalam perbuatan keji. Hal ini bisa menyeret Anda pada perselingkuhan dan perbuatan zina. Namun, tidak ada kata terlambat. Hendaknya BERTAUBAT dari perbuatan dosa tersebut dan berusaha pecahkan masalah sesuai dengan tutunan syariat. Bicarakan masalah baik-baik dengan suami atau cari mediator antara kalian berdua. Anda tidak harus menceritakan bahwa Anda telah melakukan kesalahan dengan memiliki hubungan dengan laki-laki lain karena ini bisa memperburuk keadaan. Yang terpenting adalah hendaknya bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya dan putus hubungan dengan laki-laki yang tidak halal bagi Anda tersebut.

 

Perlu diketahui juga bahwa tidak ada laki-laki yang baik yang menjalin hubungan dengan wanita yang telah menjadi istri orang lain. Jangan tergoda dengan kata-kata manis atau janji-janji kosong. Hanya laki-laki yang fasik yang cacat agama dan akhlaqnya yang mau menggoda wanita yang telah menjadi istri orang lain. Bahkan Rasulullah dengan tegas menyatakan bahwa bukan golongan beliau orang-orang yang ingin merusak hubungan seorang istri dari suaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Ahmad 9157 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا

“Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib (menarik hati) seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud 2175, dishahihkan al-Albani)

Semoga Allah menunjukkan ke jalan yang benar dan memberi keberkahan dalam rumah tangga. Amien.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

ACARA WALIMAH TETANGGA

Ustadz, saya bwrhubunhan baik dengan tetangga sebelah rumah, kami sailing menghormati, bertukar hadiah dll..

Saat ini tetangga saya sebelah rumah akan mengadakan pests pernikahan anaknya dan kami diundang menjadi panitia pernikahan sekaligus diundang pada hari H acara..

Dalam acara nikah itu sesuai adat sini biasanya diadakan acara musik dan tdk dipisah tamu lelaki wanitanya.

 

  1. Bagaimana sikap kami sebaiknya menyambut undangan jadi panitia tsb, apakah cukup diam saja atau menyatakan ke tidaksanggupan karena ada suatu alasan kepentingan ( alasan yang agak di buat buat walk tidak bohong )?
  2. Kapan sebaiknya kami datang ke acara tsb ?

Jawab:

Rasulullah bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi menjalin hubungan yang baik dengan tentangga adalah perbuatan yang sangat baik. Hal ini perlu terus dijaga. Adapun tekait mememuhi undangan walimah pada asalnya adalah wajib. Hal ini telah diperintahkan oleh Rasulullah, dan hukum asal dari suatu perintah adalah wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا

“Jika salah seorang di antara kalian diundang walimah, maka hadirilah.” (HR. Bukhari no. 5173 dan Muslim no. 1429)

Hanya saja jika dalam acara walimah tersebut ada acara kemungkaran maka tidak boleh kita mendatanginya. Kita bisa datang sebelum atau setelah acara yang mengandung kemungkaran tersebut. Hendaknya bantu sekuat tenaga untuk persiapan pernikahan tersebut misal bersedia jadi panitia tetapi bukan dalam hal-hal yang berkaitan dengan kemungkaran. Jika memungkinkan sampaikan baik-baik alasan Anda tidak datang pada saat ada acara musik atau kemungkaran lainnya. Insyaallah mereka akan memahaminya. Bahkan kalau bisa nasehati agar tidak menyelenggarakan hal-hal yang menyelisihi syariat tersebut. Jika belum bisa menasehati maka minimal lakukan yang terbaik dan bantu hal-hal yang tidak menyelisihi syariat.

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

 

SUMUR BERUBAH BAUNYA

Ustadz…sumur dirumah saya sepertinya kemasukan binatang entah ayam atau yg lainnya, airnya bau. Status air tsb suci atau najis tadz…?

Jawab:

Pada asalnya air itu hukumnya suci sampai kemudian berubah salah satu sifatnya (rasa, bau, atau warnanya) karena kemasukan najis maka air tersebut berubah menjadi najis.

Jika sumur tersebut berubah baunya karena kemasukan bangkai maka dia najis. Untuk mensucikannya perlu dikuras. Jika sumur berubah baunya dan diperkirakan kemasukan bangkai maka untuk kehati-hatian hendaknya dikuras juga.

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

TERKAIT DZIKIR PAGI DAN PETANG

Assalamualaikum ustadz, ana pernah dengar bahwa majelis ilmu termasuk dzikir. Pertanyaannya: apakah mendengar audio kajian di pagi atau sore hari termasuk dalam “dzikir pagi petang”?

Jawab:

Wa’alaikumsalam, dzikir dalam arti yang luas artinya ingat kepada Allah. Orang yang beribadah, menuntut ilmu atau melakukan amalan apapun dalam rangka mengingat Allah maka termasuk dzikir juga. Adapun dzikir secara khusus adalah dengan membaca bacaan-bacaan tertentu.

Mendengar audio kajian di pagi hari atau sore hari adalah amalan yang baik. Jika diniatkan untuk mengingat Allah maka termasuk dzikir dalam arti yang luas. Namun hal ini bukan termasuk dalam membaca dzikir pagi dan petang sebagaimana banyak disebutkan dalam hadits. Bacalah bacaan-bacaan dzikir yang telah diriwayatkan dari Nabi. Diantaranya memperbanyak membaca tasbih (subhanallah).

Rasulullah bersabda, “Barang siapa mengucapkan di waktu pagi dan petang: “Subhanallah wa bihamdih“; seratus kali tidak ada seorangpun di hari kiamat yang datang membawa suatu kebaikan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan hal yang sama atau lebih dari itu“. (HR. Muslim 2692)

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

MEMBERSIHKAN MADZI DAN MANI

Bismillah,

Assalamualaikum.

Ustadz, hukum madhi/carikan yg keluar ketika syahwat apkah boleh di bersihkan dg ckp mengerik bagian yg terkena madhi itu ketika sdh kering smpai Hilang bekasnya atau hrs di cuci sempurna?

Bagaimana  jg dg hukum cairan mani ktk terkena baju cara mensucikannnya?

Sukron atas jwbnnya

 

Jawab:

Wa’alaikumsalam.

Pertama perlu diketahui dulu perbedaan madzi dan mani. Madzi adalah cairan bening, agak kental dan tidak berbau, biasanya keluar ketika mulai muncul syahwat. Adapun mani adalah cairan kental, warna putih, memiliki bau yang khas, keluar dengan memancar, dan setelah keluar badan terasa lemas, biasanya keluar saat syahwat memuncak.

Ulama’ berbeda pendapat tentang hukum madzi dan mani. Yang rajih adalah bahwa madzi hukumnya najis, sedang mani hukumnya suci. Orang yang keluar mani wajib mandi besar adapun jika keluar madzi maka cukup dengan wudhu.

Untuk mani tidak wajib dibersihkan karena dia suci. Namun, hendaknya tetap dibersihkan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah, bisa dengan dicuci atau dikerik jika sudah kering.

Adapun madzi karena hukumnya najis jika mengenai pakaian maka wajib dibersihkan.  Untuk membersihkan madzi adalah dengan dicuci dan tidak cukup sekedar dikerik, tetapi jika menyulitkan maka boleh dengan dibasahi/diperciki air sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.

Diriwayatkan dari sahabat Sahl bin Hunaif, dia berkata:

كُنْتُ أَلْقَى مِنَ المَذْيِ شِدَّةً، وَكُنْتُ أُكْثِرُ مِنَ الِاغْتِسَالِ، فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: إِنَّمَا يُجْزِيكَ مِنْ ذَلِكَ الْوُضُوءُ ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَكَيْفَ بِمَا يُصِيبُ ثَوْبِي مِنْهُ؟ قَالَ: يَكْفِيكَ بِأَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ، فَتَنْضَحَ بِهَا مِنْ ثَوْبِكَ، حَيْثُ تَرَى أَنَّهُ أَصَابَهُ

“Saya seorang yang mudah keluar madzi dan saya banyak mandi. Maka akupun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas hal itu. Beliau bersabda: sesungguhnya cukup bagimu wudhu. Saya berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan yang mengenai pakaianku? Beliau menjawab: cukup bagimu mengambil air setelapak tangan kemudian membasahi pakaianmu (yang terkena madzi) dengannya sampai engkau melihat itu mengenainya/membasahinya.” (HR. Abu Dawud 210, dihasankan Albani)

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

MIMPI TETAPI TIDAK BASAH

Bismillah

Tanya ustadz,jika seseorang bermimpi berhubungan dng istrinya,dn ketika terbangun dirinya tdk ad bekas maaf(sperma)dlm pakaianya,apakah d haruskan mandi junub atau hanya berwudlu langsung sholat,,maaf pertanyaanya agak jorok krn sy masih ragu dlm hal ini..mohon jwbnya ustadz.trima kasih

Jawab:

Yang menjadi patokan mandi junub adalah keluarnya mani. Jika seseorang (baik laki-laki atau perempuan) mimpi kemudian keluar mani atau mendapati pakaian/celananya basah saat bangun tidur maka dia wajib mandi junub. Jika tidak keluar mani atau pakaianya tidak basah maka tidak ada kewajiban mandi junub.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu anha:

جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِي طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ: إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي مِنَ الحَقِّ، هَلْ عَلَى المَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ إِذَا رَأَتِ المَاءَ

“Ummu Sulaim, istri abu Thalhah, datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu atas kebenaran. Apakah wanita ada kewajiban untuk mandi jika dia bermimpi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Iya, jika dia melihat air.” (HR. Bukhari 282 dan Muslim 313)

Hadits ini dengan jelas menunjukkan kewajiban mandi junub itu jika bermimpi kemudian melihat air (maksudnya mendapati cairan mani atau mendapati pakaiannya basah). Jika tidak mendapati cairan mani maka tidak wajib mandi junub. Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

AKUNTAN BUNGA RIBA

Assalamu alaikum, mau tanya, hukum kerja di perusahaan sbagai akuntan/ mencatat pinjaman bunga dri Bank misal ??

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Jika memang dia berinteraksi langsung dengan riba apalagi sebagai penulis atau pencatat bunga riba maka ini jelas haram. Bahkan termasuk yang dilaknat oleh Rasulullah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

أنه لعن آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه، وقال: هم سواء

“Beliau melaknat pemakan (yang mengambil) riba, pemberinya, penulisnya dan kedua saksinya. Beliau juga bersabda: mereka sama.” (HR Muslim)

Perbuatan atau pekerjaan yang dilaknat dalam syariat menujukkan hal tersebut haram dan termasuk dosa besar. Hendaknya berusaha mencari pekerjaan yang lainnya yang selamat dari riba dan hal-hal yang diharamkan lainnya. Semoga Allah memberi kemudahan. Allah Mahamampu untuk memberi kemudahan hambaNya.

Allahu A’lam.

Tanya Jawab Group WA Ukhuwahislamiah.com

Ust Abu Zakariya Sutrisno, M.Sc

 

 

Ustadz mau bertanya

Apakah nikmat itu makhluk?

Jawab:

Pertama perlu dicatat bahwa jangan sampai kita membahas sesuatu secara berlebihan sehingga kita melupakan sesuatu yang lebih penting/esensial dari hal tersebut. Termasuk dalam masalah ini, apakah nikmat itu makhluk atau bukan. Yang jelas kita wajib meyakini bahwa seluruh nikmat itu asalnya dari Allah dan kita harus mensyukurinya.

Allah berfirman,

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ

“Dan apa saja ni’mat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An Nahl: 53)

Secara bahasa (baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia), nikmat dapat diartikan sebagai pemberian atau karunia dari Allah. Nikmat bentuknya bisa bermacam-macam. Misal nikmat bisa berupa diberi anak atau istri, dalam hal ini jelas tidak diragukan lagi keduanya adalah makhluq.

Nikmat juga bisa berupa sesuatu yang sifatnya maknawi seperti kehidupan, kebahagiaan dan lainnya.  Bisa juga nikmat berbentuk yang lainnya. Apakah semua jenis nikmat ini bisa kita katakan sebagai makhluq? Allah A’lam, yang lebih selamat adalah hendaknya tidak perlu membahasnya secara berlebihan. Yang jelas kita yakini seluruh nikmat berasal dari Allah dan kita juga meyakini bahwa Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu.


Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

 

 

 

 

MEMBUNUH CICAK

Bismillah, Mau tanya ustadz, bolehkah membunuh cicak didalam kamar mandi.nuwun. Jazakallahu khoiron

 

Jawab:

Disebutkan dalam beberapa hadits shahih bahwa Rasulullah memerintahkan untuk membunuh cicak dan bahkan beliau juga menegaskan bahwa hal itu berpahala. Diantaranya dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak/tokek, beliau menyebut hewan ini dengan hewan fuwaisiqah (fasik kecil).” (HR. Muslim, no. 2238)

Mungkin ada yang bertanya kenapa diperintahkan dibunuh padahal tidak berbahaya? Pertama perlu difahami bahwa bagi seorang muslim jika telah jelas ada perintah dari Allah dan RasulNya maka kerjakan perintah tersebut. Meskipun mungkin kita tidak mengetahui hikmahnya. Allah yang lebih mengetahui hikmah atas segala sesuatu.

Dikatakan sebagian ulama’ bahwa cicak dan tokek diperintahkan dibunuh karena termasuk hewan yang fasik. Sebagaiamana juga disebutkan dalam hadits diatas. Disebutkan dalam hadits yang lainnya juga bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari, no. 3359)

Bahkan kalau kita perhatikan cicak dan tokek juga menyebabkan kotoran dan membuang kotoran di mana-mana. Bisa jadi kotoran ini membawa penyakit dan lainnya. Allahu A’lam.


Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

Al-Qur’an itu apakah makhluk??

Jawab:

Al Qur’an adalah kalamullah, firman Allah, bukan makhluk. Dalam Al Qur’an sendiri Allah menegaskan bahwa Al Qur’an adalah kalamullah. Allah berfirman,

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah (Al-Qur’an).” (QS. At-Taubah: 6).

Penjelasan bahwa Al Qur’an bukan makhluk ini telah disampaikan oleh para ulama’ sejak zaman dahulu, sebagaimana disampaikan Imam Ahmad dalam kitab Ushulu Sunnah, Imam Thahawi dalam Aqidah Thahawiyah, Imam Ibnu Taimiyah dalam Aqidah Al Wasithiyah dan lainnya –semoga Allah merahmati mereka semua-.

Beda misalnya kertas mushaf yang dipakai untuk menulis al Qur’an maka itu makhluk. Kertasnya yang makhluk, adapun yang ditulis disitu adalah Al Qur’an, kalamullah, wahyu yang Allah turunkan. Tidak ada yang mengatakan Al Qur’an adalah makhluk kecuali orang-orang yang menyimpang seperti mu’tazilah dan lainnya. Allahu A’lam.


Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

HUKUM MEMBERI ORANG YANG MEMINTA-MINTA

Assalaamualaikum..

Ustadz.1. bagaimana sikap kita terhadap org yg sllu meminta2 dan itu mnjadi pekerjaannya?apa kita harus mmberi terus,shigga dia terus meminta2/bgaimana?

2.bagaimana juga hukum memberi uang pada pengamen?

Syukron jazaakallahu khairan.

 

Jawab:

Wa’alaikumsalam.

Untuk soal pertama, islam memerintahkan untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Namun, Islam juga melarang seseorang untuk meminta-minta padahal dia tidak membutuhkan. Dia meminta-minta karena malas berusaha atau karena ini memperkaya diri dengan hal itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا، فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

“Barangsiapa meminta harta benda kepada orang lain dengan tujuan memperbanyak (kekayaan), maka sebenarnya dia meminta bara api, oleh karena itu terserah kepadanya mau memperoleh sedikit atau memperoleh banyaknya.” (HR. Muslim: 1041)

Oleh karena itu jika ada orang yang meminta-minta terus maka jangan diberi. Kalau bisa nasehati agar berhenti dari kebiasaan buruk tersebut.

Untuk soal kedua, jika memang pengamen itu adalah orang yang malas dan sekedar ingin meminta-minta pada orang lain maka tidak boleh memberinya. Apalagi jika keberadaannya juga membuat gerah atau tidak nyaman masyarakat. Allahu A’lam.


Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

HUKUM MUSIK

Assalamualaikum.. ana ingin bertanya apa hukum mendengarkan musik  ?? Apakah musik itu halal atau haram ??

Jawab:

Wa’alaikumsalam, para ulama’ sejak zaman dahulu sampai sekarang telah banyak membahas tentang hukum musik. Pendapat yang lebih hati-hati adalah yang mengatakan bahwa musik haram. Dalil yang mendukung hal ini sangat banyak. Diantaranya firman Allah ta’ala,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Lukman: 6)

Banyak sekali ahli tafsir, diantaranya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa yang dimaksud lahwal hadits (perkataan yang tidak berguna) dalam ayat ini adalah musik dan nyanyian. Dalam sebuah haditsnya Rasulullah bersabda,

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

“Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari no. 5590)

Masih banyak lagi dalil yang mendukung pendapat yang mengharamkan musik. Namun dikecualikan dalam hal ini yaitu menabuh duff (rebana) saat hari Raya dan pernikahan bagi wanita atau anak kecil. Dengan demikian maka hendaknya menjauhi mendengarkan musik apalagi jika jelas-jelas hal tersebut melalaikan atau bahkan mengajak pada perbuatan keji dan kotor. Allahu A’lam.


Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

NADA DERING AYAT AL QUR’AN

Assalamualaikum…mau bertanya  bagaimana hukumnya mengunakan nada dering alquran…dan mohon disertakan hadistnya..?

Jawab:

Wa’alaikumsalam,

Masalah nada dering adalah masalah kontemporer (baru) maka tidak kita dapatkan ayat atau hadits yang secara eksplisit menyebutkan tentang nada dering. Bahkan tidak kita dapatkan pula dalam pembahasan ulama-ulama zaman dahulu. Ini adalah masalah kontemporer karena HP baru saja ditemukan beberapa puluh tahun terakhir ini.

Ulama-ulama zaman ini telah membahas tentang masalah menggunakan ayat al Qur’an untuk nada dering. Mayoritas mereka mengatakan hal tersebut dilarang. Diantara yang berpendapat demikian adalah lajnah da’imah (lembaga fatwa Arab Saudi), fatwa ulama’ mesir, bahkan juga fatwa MUI (majelis ulama’ Indonesia). Diantara sebab dilarang memakai ayat Al Qur’an untuk nada dering karena hal tersebut bisa termasuk bentuk ihanah (menghinakan Al Qur’an). Bisa jadi nada dering tersebut berbunyi saat di toilet atau tempat-tempat kotor lainnya. Selain itu, mungkin karena ingin segera menjawab panggilan maka ayat yang sedang dibaca sering diputus sehingga maknanya tidak lengkap. Hal ini tentu tidak layak.

Al Qur’an adakah firman Allah, wahyu yang diturunkan untuk dibaca, ditadaburi dan diamalkan isinya. Jadi Al Qur’an kedudukannya sangat agung. Jangan sampai sekedar dibaca sambil lalu atau untuk sesuatu yang tidak layak.

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al Quran maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al A’raf: 204)

Lalu bagaimana dengan orang yang mengatakan: Daripada pakai musik lebih baik pakai al Qur’an? Ini tentu bukan dalil atau alasan yang dibenarkan. Karena setiap orang bisa dengan mudah memakai nada dering dengan nada-nada biasa yang tidak ada musiknya. Allahu A’lam.


Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

 

 

PACARAN, BOLEHKAH?

Assalamualaikum. Ana ingin bertanya   apakah pacaran ada didalam islam ?? Mohon nasihat nya uztad

Jawab:

Wa’alaikumsalam,

Pacaran dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “pacar” yang artinya teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih, kekasih. Adapun berpacaran maknanya bercintaan, berkasih-kasihan (lihat KBBI).

Pacara dalam arti seperti ini jika dikerjakan setelah nikah maka jelas itu hal yang diperbolehkan, bahkan sangat dianjurkan. Adapun jika dilakukan sebelum nikah (sebagaimana dikenal dalam kebiasaan masyarakat) maka jelas hal ini dilarang karena hal tersebut akan menyeret pada perbuatan keji, bahkan bisa menjerumuskan pada perzinaan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32)

Meskipun mungkin tidak sampai berzina setidaknya orang yang berpacaran seringkali jatuh pada perbuatan-perbuatan yang menyelisihi syariat seperti berduaan (kholwat) dengan lawan jenis, berjabat tangan atau bahkan ciuman, dan seterusnya. Ini semua adalah adalah perbuatan terlarang dan pintu menuju perzinaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Bagaimana jika ingin sekedar kenalan sebelum menikah? Jika memang sudah mantap untuk nikah maka hendaknya ta’aruf dengan cara-cara yang dibenarkan syariat. Jangan sekedar melampiaskan nafsu dengan dalih ta’aruf. Jika memang sudah benar-benar saling cocok dan yakin itu adalah calon terbaik maka segera nikah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ

“Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). Allahu A’lam.


Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

 

Allahu A’lam.


Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

Allahu A’lam.


Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

Bagaimana hukum amalan Rebo Wekasan?

Jawab:

Yang dimaksud Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir pada bulan Shofar. Sebagian orang melakukan sholat khusus, do’a-doa dan amalan-amalan tertentu dengan keyakinan untuk menolak balak yang turun pada hari itu. Setahu kami tidak dalil akan hal ini dan juga tidak diamalkan oleh para salafush shalih. Setiap amalan dalam agama harus berlandaskan dalil. Rasulullah bersabda,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

‘Siapa yang membuat hal yang baru dalam agama ini, yang bukan bagian dari agama maka dia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keyakinan bahwa hari itu (Rabu akhir bulan Shofar) turun balak juga tidak ada dalilnya, bahkan bisa jadi ini berasal dari khurafat semata. Dulu orang-orang Jahiliyah menganggap bulan Shofar adalah bulan yang sial dan penuh bencana. Syariat pun datang dan membatalkan keyakinan seperti ini. Rasulullah bersabda,

لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thathoyur, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Shafar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam satu fatwanya Lajnah Da’imah juga menegaskan bahwa amalan khusus di hari Rabu terakhir bulan shofar adalah amalan yang tidak ada dalilnya. Lihat secara lengkap pada fatwa no 1619, Juz 2 hal 497. Allahu A’lam.


Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com

 

 

 

HUKUM JADI ANGGOTA KOPERASI

Assalamualaikum,

Mau tanya, bagaimana hukum menjadi anggota koperasi, dimana salah satu usahanya adalah simpan pinjam?

Jawab:

Wa’alaikumsalam. Pertama perlu difahami bahwa yang dijadikan landasan untuk menghukumi sesuatu adalah hakikat dari hal tersebut. Disebutkan dalam sebuah kaidah:

الحكم على الشيء فرع عن تصوره

“Hukum atas sesuatu adalah cabang dari gambaran (atas hakikat) sesuatu itu.”

Dalam hal ini, hukum menjadi anggota suatu koperasi tergantung dari hakikat koperasi dan usaha yang dijalankan. Jika tidak ada hal-hal yang menyelisihi syariat dan benar-benar koperasi itu sesuai dengan tujuan koperasi didirikan (yaitu untuk mensejaterakan anggota) maka tidak mengapa bergabung. Misal koperasi mengembangkan usaha-usaha yang halal dan juga menyediakan simpan pinjam untuk anggota tetapi tidak disertai riba maka ini hal yang bagus.

Adapun jika jelas-jelas usaha yang dilakukan menyelisihi syariat maka tidak boleh bergabung. Misal jika koperasi itu usaha utamanya adalah simpan pinjam tetapi disertai bunga riba maka ini jelas menyelisihi syariat. Meskipun bunga riba tadi dinamai dengan nama yang lainnya misal “infaq wajib” atau “iuran anggota” khusus bagi yang pinjam. Ini hakikatnya adalah riba. Ini tidak jauh beda dengan usaha riba bank konvesional atau “rentenir” tetapi berkedok dengan koperasi.

Kita berharap pengelola koperasi, apalagi yang dinamai dengan “koperasi syariah” untuk benar-benar menerapkan aturan-aturan syariat. Jangan sekedar nama, tetapi hakikatnya jauh dari aturan syariat. Apalagi jika juga jauh dari aturan hukum yang ada dan jauh tujuan utama koperasi didirikan. Bukannya untuk mensejahterakan anggota tetapi semata-mata untuk ambisi bisnis orang-orang tertentu dan menyusahkan masyarakat.

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS Al Maidah: 2)

Allahu A’lam.


Tanya Jawab WA Ukhuwahislamiah.com