Hakekat Kebahagiaan

1
930

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, serta pengikutnya.

Di kehidupan ini, setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan. Seandainya kita telusuri semua keinginan dan harapan hidup manusia, maka muaranya adalah ingin “hidup bahagia”. Ketika seseorang berangan-angan  memiliki harta yang banyak, apa tujuannya? Tidak lain karena ingin bahagia. Jika  Anda bertanya pada orang yang berambisi pada kekuasaan, apa yang ia ingin raih? Pasti juga kebahagiaan.

Namun perlu kita sadari bahwa harta, jabatan, dan kekuasaan bukanlah kunci utama meraih kebahagiaan. Betapa banyak kita dapatkan orang yang kaya raya tetapi ia tidak meraih kebahagiaan dalam kehidupan. Begitu juga orang yang punya kekuasaan, dia juga tidak merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya seiring bertambahnya kekuasaan yang dimilikinya.

Perhatikanlah Qorun, seorang hartawan yang tiada duanya, seandainya  kunci-kunci gudang kekayaannya dipikul beberapa laki-laki yang kuat mereka akan merasa kepayahan karena beratnya. Namun apakah harta yang sedemikian banyak mengantarkan Qorun kepada kebahagiaan? Sama sekali tidak, hartanya malah mengantarkannya kepada jurang kesengsaraan. Allah berfirman,

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ القُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعاً وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka” (QS al Qashash: 78)

Kemudian perhatikanlah Fir’aun, seorang raja-diraja dimasanya, tak seorang pun dari pengikutnya yang berani membantah perintahnya.  Bahkan, sebab kekuasaan yang sedemikian kuatnya, dengan sesuka hatinya ia bisa memerintahkan membunuh manusia tanpa harus takut akan dituntut hukum. Namun, apakah kekuasaannya mengantarkan Fir’aun kepada kebahagiaan sejati? Allah Berfirman :

وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ. فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.” (QS al Qashash: 39-40)

 

Jalan Kebahagiaan Menurut Islam

Allah telah menurunkan agama yang mulia ini tidak lain agar manusia dapat mencapai kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al Ma’idah: 3)

Allah menghimpunkan antara kesempurnaan islam dengan kesempurnaan nikmat. Maksudnya, barangsiapa berusaha menyempurnakan agamanya maka ia akan merasakan nikmat dan kebahagiaan secara lebih sempurna. Islam telah mengajarkan rambu-rambu yang harus ditempuh manusia agar sampai kepada kebahagiaan yang hakiki. Apakah rambu-rambu tersebut? Syaikh Muhammad at Tamimi rahimahullah berkata dalam pembukaan kitab Qowa’idul Arba’:

وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هذه الثلاث عنوان السعادة

Dan (semoga Allah) menjadikan anda seseorang yang jika diberi maka bersyukur dan jika diuji maka bersabar dan jika berbuat dosa maka beristighfar. Karena sesungguhnya tiga hal ini adalah tanda-tanda kebahagiaan.”

Selama hidupnya manusia tidak akan lepas dari tiga perkara tersebut, kadang kala ia mendapatkan kenikmatan, kadang kala mendapat ujian, kadangkala juga manusia terjerumus dalam kesalahan atau dosa. Begitulah kehidupan manusia, ibarat roda berjalan, kadang diatas kadang dibawah, kadang senang kadang sedih, kadang tertawa kadang menangis. Namun pertanyaannya, bagaimanakah agar kita tetap merasa bahagia dalam seluruh keadaan tersebut? Tidak lain adalah dengan senantiasa bersyukur atas nikmat yang kita dapatkan, bersabar atas segala cobaan yang datang dan segera bertaubat dan beristighfar jika berbuat kesalahan atau dosa. Dengan demikian kita akan senantiasa merasakan hidup kita bahagia. Benarkah? Silahkan dibuktikan.

 

Bersyukur

Sungguh ajaib hidup seorang muslim, yang mana ia senantiasa baik dalam setiap kondisi yang dihadapinya. Dari Suhaib radhiallahu’anhu., bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim 2999)

Betapa indah bimbingan Rosulullah shalallahu’alaihi wasallam pada umatnya, disaat mendapatkn sesuatu yang menyenangkan Rosulullah shalallahu’alaihi wasallam berdo’a:

الحَمْدُ لِلَّه الَّذي بِنِعْمَتِهِ تَتَمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala  puji bagi Allah, dengan nikmatnya sempurna kebaikan-kebaikan.. “

Sedang saat mendapat musibah atau sesuatu yang tidak disenangi berdo’a:

الحَمْدُ لِلَّه عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas segala sesuatu.”

 

Bersabar

Hidup ini adalah ujian, Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS al Baqarah: 155)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

  1. Ash-shobru ‘ala Tho’atillah

Bersabar diatas keta’atan kepada Allah sangatlah berat. Rosulullah mengabarkan bahwa surga diliputi dengan makaarih (sesuatu yang tidak mengenakan jiwa), adapun neraka diliputi dengan syahwat yang pada asalnya jiwa manusia cenderung padanya.

  1. Ash-shobru ‘ala tarki maksiatillah

Meninggalkan sesuatu yang pada hakikatnya disukai  oleh jiwa kita adalah cukup berat, bagaimanapun yang namanya syahwat  pasti enak rasanya dan membuat kita lalai dengannya. Sehingga Allah menjajikan bagi siapa yang mampu berpaling dengannya  dengan ganti yang lebih baik. Allah tidak serta merta melarang saja namun Allah menjajikan ganti yang lebih baik.

  1. Ash-shobru ‘ala aqdarillah.

Kita harus menyakini bawasanya takdir adalah salah satu dari asrorillah (rahasia Allah), kita beriman kepadanya dan bersabar atasnya. Dan dalam masalah kita bersabar dengan takdir dari Allah bukan berarti kita harus berpangku tangan dan tidak melakukan upaya untuk membuat keadaan kita semakin baik. Hendaknya kita berusaha mengubah takdir kita dengan takdir dari Allah juga, maksudnya kita tempuh sebab –sebab perubahan takdir maka takdir kita pun akan berubah sesuai dengan kehendak Allah. Katakanlah kita lapar -ini adalah takdir- maka kita pun makan –dan inipun juga takdir- niscaya dengan izin Allah kita pun akan kenyang-dan ini takdir yang kita harapkan. Begitu juga masalah yang lainya seperti kebodohan, kemiskinan , kelemahan iman dan lainya yang menimpa kita maka kita harus  berusaha mengubahnya dengan melazimi sebab-sebabnya yaitu dengan senantiasa belajar, bekerja, berteman dengan orang-orang sholih dan seterusnya.

 

Segera Bertaubat dan Beristighfar jika Berbuat Salah

Kita adalah manusia biasa yang memiliki sifat salah dan lupa. Yang namanya manusia bisa saja terjerumus pasa suatu dosa atau kesalahan. Yang terpenting adalah hendaknya segera beristiqfar dan bertaubat. Orang yang beriman bukan orang yang tidak memiliki kesalahan atau dosa. Tetapi mereka adalah orang yang bersegera bertaubat saat berbuat dosa atau kesalahan. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri , mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali ‘Imran: 135)

 

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 27/11/1431H (Direvisi 23/5/1437H)

Artikel: www.ukhuwahislamiah.com