Haji berulang dalam pandangan syariat

0
55

Syaikh Dr. Saleh Al Fauzan hafidzahullah

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga serta sahabatnya.

Kemudian,

Sesungguhnya haji adalah ibadah yang sangat agung yang menggabungkan ibadah badan dan harta. Dia (haji) termasuk jihad fi sabilillah, hanya saja tidak ada perang di dalamnya sebagaimana sabda Rasulullah sholallahu alaihi wassallam. Dia adalah rukun kelima dari rukun-rukun Islam. Haji ke baitullah adalah wajib tiap tahun atas umat sebagaimana firman Allah ta’ala, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS Ali Imran: 97). Dia dari sisi ini adalah fardhu kifayah. Adapun bagi tiap individu maka (kewajiban) haji adalah sekali dalam seumur bagi yang mampu sebagaimana firman Allah “Bagi yang mampu terhadap perjalanannya.” Rasulullah bersabda, “Haji adalah sekali (dalam seumur), adapun yang selebihnya adalah sunnah.” Ini adalah salah satu bentuk rahmat Allah. Karena haji membutuhkan bekal harta, kekuatan harta, dan perlu melakukan perjalanan yang jauh maka Allah mewajibkannya sekali dalam seumur. Barangsiapa mampu secara harta dan badan maka wajib atasnya bersegera haji atas dirinya. Barangsiapa mampu secara harta tetapi tidak mampu secara badan karena lemahnya fisik secara permanen maka ia mewakilkan orang lain dan menanggung biaya hajinya.

Adapun melakukan haji secara berulang maka itu adalah sunnah selama tidak membahayakan badan karena berdesakan dan bahaya (yang lain) yang disebabkan karena hal tersebut. Jika disana ada bahaya maka meninggalkan haji sunnah maka lebih utama. Apalagi banyak sekali amalan kebaikan yang lainnya dan tersedia kesempatan/medan yang luas untuk berbuat kebaikan seperti memberi makan orang yang membutuhkan, membantu orang yang kesusahan dan ikut mengambil peran dalam proyek-proyek kebaikan yang bermanfaat.

Selain itu, hendaknya mematuhi peraturan yang dibuat negara untuk kebaikan para jemaah haji seperti pembatasan jumlah jemaah haji tiap negara. Tidak boleh menyelisihi peraturan ini. Dan berhaji tanpa izin akan menyebabkan dirinya sendiri untuk melanggar larangan-larangan ihram. Tidak mampu mengerjakan haji sesuai yang diperintahkan karena penuh sesak sehingga menyebabkan dia bermudahan dalam mengerjakan manasik haji. Bisa jadi hajinya kurang, atau bisa jadi tidak sah karena meninggalkan sebagian manasik atau mengerjakannya tidak sesuai yang diperintahkan. Apalagi para wanita yang mereka menghadapi bahaya dan kesualitan yang sangat. Maka barangsiapa mengerjakan kewajiban (hajinya) yang pertama maka hendaknya tidak berulang mengerjakan haji kembali karena alasan alasan ini. Dan hendaknya dia memberi kesempatan yang lainnya yang belum berhaji. Allah berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” Allah juga berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Dan sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, disana banyak sekali kesempatan bagi seorang muslim untuk berbuat kebaikan selain melakukan haji sunnah. Bisa jadi pahalanya lebih besar dari mengerjakan haji sunnah. Ini kalau mengerjakan hajinya mudah, maka bagaimana jika kondisinya susah seperti zaman ini.

Sesungguhnya Allahlah yang memberi taufiq dan petunjuk kepada jalan yang lurus. Sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga serta sahabatnya.

Diterjemahkan secara bebas oleh Abu Zakariya Sutrisno dari : http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2304

Teks Arab:

تكرار الحج والرؤية الشرعية

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وبعد:

فإن الحج عبادة عظيمة تجمع بين العبادة البدنية والعبادة المالية وهو من أنواع الجهاد في سبيل الله إلا أنه لا قتال فيه كما قال النبي صلى الله عليه وسلم. وهو الركن الخامس من أركان الإسلام وحج البيت واجب كل سنة على الأمة لقوله تعالى: (وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً) فهو من هذه الناحية فرض كفاية وأما بالنسبة للأفراد فالحج مرة واحدة في العمر على المستطيع كما قال تعالى: (مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً)، وقال صلى الله عليه وسلم: “الحج مرة واحدة، وما زاد فهو تطوع” وهذا من رحمة الله سبحانه فإنه لما كان الحج يحتاج إلى مال ينفق فيه وإلى قوة بدنية ويحتاج إلى سفر من مسافات بعيدة جعله الله مرة واحدة في العمر. فمن استطاع الحج بدنيا ومالياً وجب عليه أن يباشر الحج بنفسه. ومن استطاعه ولم يستطعه بدنيا لعجز بدني مستمر فإنه يوكل من يحج عنه ويقوم بتكاليف الحج من ماله. وأما تكرار الحج فهو مستحب إذا لم يترتب عليه أضرار بدنية بسبب الزحام الشديد والأخطار المترتبة على ذلك. فإذا كان هناك أضرار فترك الحج النافلة أفضل لاسيما وهناك أعمال خيرية كثيرة ومجال واسع لمن يريد الخير من إطعام المحتاجين وإعانة المعسرين والإسهام في المشاريع الخيرية النافعة. وأيضاً لا بد من التقيد بالأنظمة التي وضعتها الدولة لمصالح الحجاج كتحديد عدد الحجاج لكل دولة. فلا تجوز مخالفة هذا النظام والحج من غير ترخيص وتعريض الإنسان نفسه للمسئولية التي قد يرتكب بسببها محظورات في الإحرام. ولا يؤدي الحج على الوجه المطلوب بسبب كثرة الزحام مما يجعله يترخص في أداء المناسك فيكون حجة ناقصاً وقد يكون غير صحيح بسبب ما يترك من المناسك أو لا يؤديه على الوجه المطلوب. ولاسيما النساء لما يتعرضن له من الخطر الشديد والمشقة الصعبة. فمن أدى فرضه فالأولى أن لا يكرر الحج في هذه الظروف الصعبة ويترك المجال لغيره ممن لم يحج. قال الله تعالى: (وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَان)، وقال تعالى: (لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا)، وكما أسلفنا هناك مجالات واسعة لفعل الخير غير حج النافلة بإمكان المسلم أن يسهم فيها. وقد يكون أجرتها أعظم من حج النافلة. هذا لو كان الحج متيسراً فكيف إذا كان الحج متعسراً كما هو الحال في هذه الأزمان. والله الموفق والهادي إلى سواء السبيل. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه

 

صالح بن فوزان الفوزان

عضو هيئة كبار العلماء