Faedah Khutbah: Buat Apa Sombong?

0
95

Sifat tawadhu’ (rendah hati) adalah sifat orang-orang beriman, itu adalah sifat Rasulullah. Rasulullah adalah pribadi yang tawadhu’ dalam berinteraksi dengan siapa pun. Bahkan beliau juga tawadhu’ dengan anak kecil sekalipun. Rasulullah pernah menghibur anak kecil dengan mengatakan, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan nughair?” (HR. Bukhari dan Muslim). Meskipun kedudukan beliau begitu tinggi, baik di sisi Allah maupun di sisi manusia tetapi Rasulullah tetap bersikap tawadhu’.

Allah memuji hambaNya yang tawadhu’ dan sebaliknya membeci orang-orang yang sombong. Orang yang sombong merasa dirinya lebih baik dari orang lain baik karena harta, kedudukan, suku, bangsa atau yang lainnya. Orang yang sombong memandang dirinya mulia dan suka meremehkan orang lain. Rasulullah bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

Manusia semuanya adalah hamba Allah dan diciptakan dari bapak yang satu yaitu Adam. Lalu buat apa saling sombong dan berbanga-bangaan? Buat apa merasa lebih tinggi atau lebih mulia dari yang lainnya? Tidak ada membedakan disisi Allah kecuali hanya ketaqwaan. Saat Fathu Mekah Rasulullah berkhutbah di depan manusia sambil mengatakan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا، فَالنَّاسُ رَجُلَانِ: بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللَّهِ، وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللَّهِ، وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ، وَخَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ “، قَالَ اللَّهُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliyah dan berbangga-bangga dengan nenek moyang. Manusia itu hanya ada dua:

(1) orang yang baik, bertaqwa dan mulia di sisi Allah dan,

(2) orang yang fajir, celaka lagi terhina di sisi Allah.

Manusia itu semuanya adalah keturunan Adam, dan Allah menciptakan Adam dari tanah.
Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat: 13) (HR Tirmidzi 3270, dishahihkan Albani)

Semoga Allah menjadikan kita orang yang tawadhu’ dan dijauhkan dari perilaku sombong.

Faedah dari khutbah Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syitsry.

Abu Zakariya Sutrisno. Jum’at, 7/2/1439H

Ukhuwahislamiah.com