Faedah Hadits: Setiap Amal Tergantung Niatnya

Mar 29, 2013 by

Bunyi hadits:

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»

 

Dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, bawasanya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya dan bagi setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya karena Allah dan RasulNya maka hijrahnya sampai pada Allah dan RasulNya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia inginkan atau karena wanita yang ia ingin nikahi maka hijrahnya sampai apa yang ia niatkan.

[Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya hadits nomor 54. Beliau juga meriwayatkan pada beberapa tempat dalam shahihnya dengan lafadz yang sedikit berbeda. Diantaranya hadits nomor 1, dengan lafadz “Innamal a’malu … auw ilaa imroatin yankihuhaa…” Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dengan lafadz yang mirip, lihat shahih Muslim hadits nomor 1907]

Perawi:

Perawi hadits ini adalah Al Faruq, Abu Hafsh Umar bin Khattab Al Qurasyi. Khalifah ar Rasyid kedua setelah Abu Bakar as Siddiq radhiyallahu ‘anhu. Masuk Islam pada tahun ke-6 kenabian. Masuk Islamnya beliau menjadi sebuah kekuatan tersendiri bagi kaum muslimin.  Ia hijrah ke Madinah dan mengikuti seluruh pertempuran bersama Nabi. Terdapat beberapa ayat al Qur’an turun terkait dengan pendapatnya yang tepat, seperti kasus tawanan perang Badar, larangan khamer dan lain-lain.

Ia didaulat menjadi khalifah setelah Abu Bakar wafat tahun 13 H. Beliau membangun kantor pengadilan dan menetapkan kalender tahun hijriyah. Ia memerintah rakyatnya dengan adil. Abu Lu’luah Al Majusi membunuhnya pada saat shalat Subuh tahun 23 H. Ia dikuburkan di samping makam Abu Bakar dan makam Rasulullah di kamar Aisyah radhiallahu ‘anha.

.

Faedah yang dapat dipetik dari hadits:

  1. Menghadirkan niat menjadi suatu kelaziman saat melakukan amal baik, agar amalan yang kita perbuat berbuah pahala.
  2. Niat letaknya di dalam hati, melafadzkan niat tidak ada dasarnya dalam agama.
  3. Ikhlas karena Allah semata merupakan salah satu syarat diterimanya amal perbuatan kita. Di mana Allah tidak akan menerima amalan terkecuali yang didasari ikhlas karena-Nya dan sesuai dengan tuntunan RasulNya.
  4. Waspada dari perbuatan riya’ (pamer) dan sum’ah (beramal agar didengar oleh orang lain).

Disadur dari Mukhtarot minas Sunnah karya Dr. Muhammad Murtadha bin ‘Aisy dengan sedikit editing. Abu Zakariya Sutrisno [Riyadh, 28/3/2013]

Related Posts

Tags

Share This

468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>