DUNIA DI MATA SALAF

1
1638

Ambisi Manusia terhadap dunia
Wahai saudaraku muslim! Lihatlah, semburat sinar matahari baru saja nampak di ufuk timur, embun pagi masih menetes di ujung dedaunan, bersamaan itu engkau akan menjumpai manusia berduyun-duyun keluar untuk mengais rizki, untuk mendapatkan sedikit dari karunia ilahi.
Akan tetapi kita berhenti tertegun, heran di hadapan sebagian manusia yang rakus, sangat berambisi untuk selalu mendapatkan tambahan, tambahan dalam kehidupan dunia, tambahan dalam harta benda yang hendak mereka tumpuk sebagai barang simpanannya !
Ibnu Qoyyim menuturkan: “At-Takatsur (bermegah-megahan) yaitu seseorang yang sangat berambisi dan senantiasa berusaha agar menjadi manusia yang terbanyak pendapatannya, manusia yang terbanyak harta bendanya dari pada selainnya. Beliau melanjutkan: “Dan sifat ini merupakan perangai tercela, kecuali dalam perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ?.
Wahai saudaraku sekalian ! Cinta terhadap kemewahan adalah satu penyakit yang banyak menjangkiti manusia sekarang ini sampai-sampai mereka enghalalkan segala cara untuk mendapatkan kehidupan yang hina lagi fana pasti akan binasa ! hal ini merupakah perkara yang ditakutkan Rasulullah ? menimpa para sahabatnya, Rasulullah ? bersabda:
??? ??????? ?????????? ????????? ???????? ??????? ?????????? ????????????
“Bukanlah yang aku takutkan kefaqiran menimpa dirimu, akan tetapi yang aku takutkan adalah sikap bermegah-megahan melampaui batas” (HR.Ahmad, Ibnu Hiban dan Hakim, disebutkan dalam kitab “shahih targhib wa tarhib” oleh Syaikh Al-Albani no: 3256)
Sungguh penyakit yang satu ini merupakan penyakit yang sangat berbahaya, betapa tidak, seorang yang terjangkiti penyakit ini akan lupa tujuan ia diciptakan di dunia, ia beranggapan dunia merupakan tempat segala-galanya, kesenangan, kebahagiaan, kemewahan, dia lupa bahwa dia hidup di dunia ini hanya sementara, ia hidup di dunia bagaikan seorang musafir dalam perjalanan, walaupun ia singgah di tempat yang hijau, sejuk, rindang dan menyenangkan, akan tetapi hal itu hanyalah tempat singgah sementara, tempat tujuan sebenarnya adalah tempat yang ia tuju, negeri akhirat yang tidak akan pernah binasa kekal selama-lamanya. Oleh karena itu, Rasulullah ? pernah bersabda mensifati bagaimana kerusakan seorang yang tertipu dengan gemerlapnya kehidupan dunia, beliau bersabda:
??? ????????? ?????????? ????????? ??? ?????? ?????????? ????? ???? ?????? ????????? ????? ???????? ??????????? ?????????
“Tidaklah kerusakan yang ditimbulkan dua serigala lapar yang dilepas di tengah-tengah kumpulan kambing itu lebih jelek akibatnya dari pada kerusakan yang ditimbulkan hasrat manusia kepada harta benda dan berlebih-lebihan dalam beragama ! (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban dan disebutkan di dalam kitab “shahih targhib” oleh Syaikh Al-Albani no: 3250)
Janganlah engkau terus-menerus mengejar kehidupan dunia yang tidak akan kekal selamanya. Akan tetapi hiduplah di dunia sebagai jalan untuk meraih keridhoaan-Nya, janganlah sekali-kali kau jadikan kehidupan dunia sebagai kebahagiaan yang menipumu, jadikanlah kehidupan dunia sebagai jalan untuk meraih kebahagiaan yang hakiki: taat kepada Allah serta merasakan kelezatan dengan bermunajat di hadapan-Nya, yang nanti akan berujung pada kebahagiaan nan kekal, surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.

?????? ???????? ???? ???????? ????????? ????????? ???????? ????? ?????????
“Seorang yang kaya itu bukan karena banyaknya harta benda akan tetapi kaya sesungguhnya adalah kaya hati”

Dunia di mata salaf
Abu mu’awiyyah Al Aswad berkata: “Semua mahluk –yang baik ataupun yang buruk– berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang lebih kecil dari pada sayap lalat”. Kemudian ada yang bertanya kepadanya: “Apa yang lebih kecil dari sayap lalat itu? Ia menjawab: “Dunia”.
Relakah kita terus-menerus berusaha untuk mengejar kehidupan dunia padahal dunia lebih rendah daripada sayap lalat yang tidak ada bobotnya? Maka tidak sepantasnya kita terhina menjadi budak dunia yang hina, dunia yang lebih rendah dari pada sayap lalat, dunia yang di dalamnya hanya penuh dengan tipu daya.
Seorang salaf berkata: “Seluruh dunia –dari awal sampai akhir– tidak lain hanya seperti orang yang tertidur sejenak, lalu bermimpi melihat sesuatu yang menyenangkan kemudian ia akan terbangun dari tidur yang bermimpikan indah tersebut”.
Sungguh benar penuturan dari pendahulu kita ini, dunia ini seluruhnya ibarat seorang yang tertidur kemudian bermimpi dengan mimpi yang menyenangkan. Nah, kehidupan dunia ini ibarat mimpi yang menyenangkan dari seorang yang tertidir tersebut dan tidak lama kemudian pasti ia akan terbangun dan terputuslah mimpi yang menyenangkan yang tengah dialaminya.
Pernah seorang salaf kita (pendahulu kita) yang sholih mendapatkan kotak besar yang berisikan intan, emas, permata, perhiasan-perhiasan yang tak terhitung banyaknya, hasil ghonimah yang ia temukan pada perang melawan Persia. Ketika ia serahkah kotak tersebut kepada kaum muslimin ada yang berkata kepadanya: “Sudahkah engkau mengambil bagiannya? Lalu apa jawab pendahulu kita yang agung ini, apakah ia mengambil bagian yang banyak dari harta yang ia temukan dengan susah payah mengangkatnya dari dalam tanah? Ia menjawab: “Semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada kalian semua! Demi Allah, sesungguhnya kotak perhiasan ini dan seluruh harta benda yang dimiliki raja-raja Persia bagiku tidaklah sebanding dengan kuku hitamku”.
Subhanallah ! Lihatlah, bagaimana tabi’in yang mulia ini menampik harta benda yang ia mempunyai hak dari harta yang ia temukan tersebut, bagaimana takutnya ia terfitnah dengan harta benda? Akan tetapi, sungguh bukan itulah yang ia cari, bukan kehidupan dunia yang menipu ini yang ia inginkan, bukan kemewahan dunia yang ia harapkan, akan tetapi yang ia cari hanyalah, bagaimana mendekatkan diri kepada Allah, bagaimana mendapatkan keridhoan dari-Nya, bagaimana ia terbebas dari kemurkaan-Nya. Lalu siapakah seorang yang sangat mulia ini? Seorang yang sangat takut tertipu kehidupan dunia yang fana? Dialah tabi’in yang mulia, Amir bin Abdillah At-Tamimi, salah seorang dari delapan ahli zuhud kota Bashroh.
Sekarang kita berada di masa khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, tatkala pasukan-pasukan kaum muslimin menundukkan musuh-musuh islam sehingga agama islam dapat tersebar luas memenuhi penjuru dunia dengan sifat kasih sayangnya. Di antara ghanimah yang didapat kaum muslimin ada sebuah mahkota terbuat dari emas murni bertahtakan intan permata yang beraneka warnanya yang memiliki ukiran yang sangat mengagumkan indahnya. Maka pemimpin kaum muslimin mengacungkannya tinggi-tinggi agar semua manusia dapat melihat keindahan mahkota tersebut. Kemudian ia berkata: “Apakah kalian mengetahui seorang yang tidak mau menerima benda ini? Mereka berkata: “siapa yang menolak benda seperti itu!? Maka panglima tersebut memerintahkan untuk mencari tabi’in mulia, Muhammad bin Waasi’. Ketika beliau ditawari benda yang sangat mengagumkan tersebut beliau menjawab: “Aku tidak membutuhkan benda tersebut, semoga Allah membalas kebaikan anda”. Akan tetapi panglima kaum muslimin telah bersumpah atas nama Allah agar ia mau menerimanya. Dengan berat hati akhirnya beliau menerimanya.
Kemudian Muhammad bin Waasi’ menenteng benda tersebut. Di tengah jalan beliau berjumpa dengan seorang yang asing, kusut, masai serta compang-camping bajunya meminta-minta. Maka tabiin yang mulia ini menoleh kekanan-kekiri dan kebelakang… setelah yakin tidak ada yang melihat, diberikannya mahkota yang sangat berharga, yang kebanyakan manusia ingin memilikinya tersebut kepada peminta-minta tersebut.
Coba perhatikanlah wahai kaum muslimin! Bagaimana sikap pendahulu kita mendudukkan dunia, bagaimana sikap zuhud mereka terhada harta benda? Mereka tidak membutuhkan benda tersebut karena mereka menganggap dunia hanyalah tempat sementara yang mereka cari hanyalah surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
Mari kita menuju ke daerah Hijaz, daerah dimana Atha’ bin bin Abi Rabbah tinggal. Sungguh sikap zuhud beliau terhadap dunia patut untuk ditiru. Segala macam rayuan kehidupan dunia, gemerlapnya kemewahan datang kepada beliau dari segala arah akan tetapi belaiu terus berpaling seraya menampiknya dengan serius. Sepanjang hayatnya belaiu hanya mengenakan baju yang harganya tidak lebih dari 5 dirham saja harga yang sangat murah ketika itu.
Pernah beliau mengunjungi khalifah kaum muslimin Hisyam bin Abdul Malik. Baju yang dikenakannya hanyalah baju yang telah lusuh, jubah yang telah usang, juga penutup kepala yang telah kusut melekat di atas kepalanya, mengendarai seekor himar yang pelananya terbuat dari kayu murahan, sehingga beliau di tertawakan. Selesai menemui khalifah dan setelah selesai mengutarakan kepentingan-kepentingan kaum muslimin, beliau segera beranjak dari tempat duduknya. Ketika itu, beliau dibuntuti oleh pembantu khalifah yang membawa bejana yang tidak diketahui apa isinya kemudian pembantu tersebut berkata: “Amirul Mukminin menyuruhku untuk memberikan ini kepada anda!” Atha’ pun menjawab: “Tidak!” lalu membaca firman Allah ? :
????? ???????????? ???????? ???? ?????? ???? ???????? ?????? ????? ????? ?????????????
“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan ini, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”. (QS.Asy-Syu’ara: 109)
Demi Allah, beliau masuk ke istana khalifah dan keluar dari sisinya sama sekali tidak minum seteguk air sedikitpun.
Beginilah salaf menikmati kehidupan dunia.
Lalu bagaimana kita menjalani kehidupan dunia ini? Rasulullah ? telah mewasiatkan dan memerintahkan agar kita hidup di dunia ibarat seorang yang asing atau seperti musafir dalam perjalanan serta tidak menunda-nunda dalam beramal. Rasulullah ? bersabda:
???? ??? ?????????? ????????? ??????? ???? ??????? ??????? . ??????? ????? ?????? ??????? : ????? ?????????? ????? ?????????? ?????????? ??????? ?????????? ????? ?????????? ?????????? ?????? ???? ????????? ?????????? ?????? ????????? ??????????
“Jadilah engkau hidup di dunia seperti seorang yang asing atau seorang musafir” maka berkatalah Ibnu Umar: “Apabila engkau berada di waktu sore maka janganlah engkau menunda-nundanya sampai besok pagi, dan jikalau engkau di waktu pagi hari maka janganlah engkau menunggu waktu sore, ambilah, gunakanlah kesehatanmu sebelum datang masa sakitmu, masa hidupmu sebelum tiba ajalmu”(HR. Bukhori)
Lalu, bagaimana kehidupan para salafus shalih mempergunakan dan beramal dengan harta yang mereka punya?
Kita tengok kehidupan cicit Rasulullah ? dari jalur Husen bin Ali, tabi’in yang mulia beliau bernama Ali bin Husen bin Ali bin Abi Thalib yang lebih dikenal dengan sapaan Zainal Abidin (hiasan para ahli ibadah). Allah memberikan kepada beliau karunia kekayaan yang melimpah. Perdagangannya selalu untung dan tanah pertaniannya subur. Akan tetapi zainal abidin tidak tenggelam dalam kesenangan terhadap kekayaan yang ia punya. Kekayaannya yang melimpah ruah itu ia gunakan sebagai jalan untuk mendapatkan kebaikan akhirat dan keridhoan dari Allah ?, dan memang seperti itulah harta jika dipegang oleh seorang hamba yang shalih. Di antara amalan yang sangat beliau gemari adalah bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.
Di saat matahari telah terbenam dan kegelapan malam mulai merambat, beliau memikul sekarung tepung di punggungnya, menembus kegelapan malam, berkeliling ke rumah para fakir miskin yang tidak suka menengadahkan tangannya meminta-minta kepada manusia.
Tak heran jika banyak fakir miskin Madinah yang hidup tanpa mengetahui dari mana jatah rizki yang ia terima. Baru setelah wafatnya Zainal Abidin, ali bin husen bin Ali mereka sadar seorang yang sangat dermawan tersebut adalah cicit Rasulullah ?.
Juga masih mengenai tabi’in yang mulia ini, bahwasannya beliau biasa memerdekakan budak yang bekerja dengan baik sebagai imbalan baginya. Diriwayatkan bahwa dia telah memerdekakan seribu budak dan tak pernah memakai tenaga budak melebihi masa satu tahun, mereka dimerdekakan ketika malam ‘Idul fitri, malam yang penuh berkah.
Inilah salah satu potret kehidupan salaf dalam menunaikan amanah harta benda di kehidupan dunia ini, sama sekali tidak ingin mendapatkan sanjungan manusia. Beliau khusyu’ beribadah kepada Allah, bermunajat kepada-Nya tetapi tidak lupa dengan kehidupan dunia yang mana harta benda yang ia punya ia gunakan untuk memperoleh keridhoan Allah serta mendapatkan Jannah-Nya.
Abu Hanifah, siapakah di antara kita yang tidak kenal dengan beliau, salah satu Imam dari madzhab yang empat dan telah terkenal akan kecerdasannya. Sungguh kedermawanan beliau telah masyhur di kalangan manusia. Setiapkali beliau belanja untuk keluarganya, sebesar itu pula beliau bersedekah kepada yang membutuhkan, setiap mengenakan baju baru, beliau juga membelikan untuk fakir miskin seperti baju yang ia pakai dengan harga yang sama. Jika dihidangkan makanan di hadapannya beliau sisihkan separuhnya untuk untuk diberikan kepada fakir miskin.
Inilah sedikit dari gambaran bagaimana para salaf kita, pendahulu kita yang shalih menyikapi kehidupan dunia, bagaimana mereka meniti kehidupan yang fana dan pasti akan binasa.
Wahai kaum muslimin! Isilah hari-harimu dengan hal-hal yang berguna, janganlah engkau tertipu kehidupan dunia! Gunakanlah waktumu untuk mengerjakan ibadah-ibadah yang mulia, jangan silau terhadap gemerlapnya harta benda. Beribadahlah dengan segala macam ibadah yang lebih dari 70 cabang banyaknya. Karena barangsiapa dapat memanfaatkan waktunya dengan mengerjakan kebaikan maka ia telah mendapatkan keuntungan yang besar. Rasulullah ? bersabda:
??????????? ????????? ???????? ??????? ???? ???????? ?????????? ????????????
“Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai dari memanfaatkan keduanya yaitu nikmat waktu luang dan nikmat kesehatan. (HR.Bukhari, Tirmidzi dan selainya)
Lalu, apa yang telah kita kerjakan di waktu luang yang kita punya, apakah bekal yang telah kita siapkan menuju alam yang kekal tak akan binasa? Apakah berupa amalan kebaikan yang akan menyelamatkan kita atau amalan-amalan keburukan yang akan membinasakan? Bagaimana kita mendapatkan harta benda darimana kita memperolehnya, apakah dari hal yang haram atau dari perkara yang diperbolehkan? Kemanakah kita habiskan harta yang kita punya apakah dalam hal kebikan atau dalam perkara yang mendapatkan kemurkaan? Maka tidaklah pantas bagi kita untuk beramal kecuali amalan-amalan yang dicintai dan diridhai oleh Allah ?, serta senantiasa memohon kepada Allah ? agar dihindarkan dari bahaya fitnah dunia dan bahaya harta benda yang menyilaukan mata dan kita harus selalu ingat bahwasannya dunia hanyalah tempat ujian dan cobaan yang pasti, tanpa diragukan lagi benar-benar akan binasa.

SHARE
Previous articleIslam agama tauhid
Next articlePuisi Bisu
Beliau saat ini adalah kandidat Doktor sekaligus peneliti di King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Beliau juga belajar kepada beberapa ulama’ diantaranya Syaikh Dr. Saleh Fauzan dan Dr Sa’ad Syistry. Selain itu beliau juga merintis Pesantren Masyarakat Hubbul Khoir di Sukoharjo (Solo) Jawa Tengah.