DOA MASUK DAN KELUAR RUMAH

0
182

Secara umum disunnahkan untuk menyebut nama Allah saat masuk rumah. Rasulullah bersabda: “Jika seseorang memasuki rumahnya lalu dia menyebut nama Allah saat masuk rumah, begitu pula saat dia makan, maka setan pun berkata (pada teman-temannya), “Kalian tidak ada tempat untuk bermalam dan tidak ada jatah makan.” Ketika dia masuk rumahnya tanpa menyebut nama Allah, setan-pun mengatakan (pada teman-temannya), “Saat ini kalian mendapatkan tempat untuk bermalam.” Dan ketika dia lupa menyebut nama Allah saat makan, maka setan-pun berkata, “Kalian mendapat tempat bermalam dan jatah makan malam.” (HR. Muslim 2018)

Selain itu disunnahkan juga untuk mengucapkan salam saat masuk rumah. Allah berfirman, “Maka apabila kamu memasuki  salah satu rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS An Nur: 61)

Diriwayatkan juga saat memasuki rumah untuk membaca:

بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا، وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا، وَعَلَى رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا

“Dengan nama Allah kami masuk (ke rumah), dengan nama Allah kami keluar (darinya), dan kepada Tuhan kami, kami bertawakkal.” (Lihat HR Abu Dawud 5096. Abdulaziz bin Baz dalam Tuhfatul Akhyar mengatakan hasan, sebagian ulama yang lain mengatakan dha’if)

Saat keluar disunnahkan membaca:

بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Dengan nama Allah (aku keluar). Aku bertawakkal kepadaNya, dan tiada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah”. (HR. Abu Dawud 5059, Tirmidzi 3426, Ibnu Majah 822. Dishahihkan Albani)

Atau membaca:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

 “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak setan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi”.  (HR. Abu Dawud 5094. Dishahihkan Albani)

 

Maraji’: Tuhfatul Akhyar dan Hisnul Muslim

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 12/12/1438H.

Artikel: ukhuwahislamiah.com