Cermin  Abadi Untuk Muslimah

0
108

 Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan peringatan bagi  manusia. Al-Qur’an juga berisi kisah-kisah umat terdahulu sebagai pelajaran. Allah mengabadikan di dalam Al-Qur’an para wanita yang mempertahankan keyakinan hatinya, yaitu iman. Allah juga mengisahkan wanita-wanita yang rapuh imannya sebagai pelajaran. Umumnya wanita tabiatnya lemah dan lembut. Hatinya mudah terombang-ambing. Walaupun demikian,  tak jarang juga ada yang hatinya seteguh karang.

Coba kita renungi surat At-Tahrim ayat 10-12. Di dalamnya Allah memberi gambaran beberapa tipe wanita yang berbeda.  Coba kita mulai simak surat At-Tahrim ayat 10 berikut:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَاِمْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا ‏عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ ‏

Artinya: “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dik atakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.

Ayat diatas menyebutkan wanita jenis pertama, yaitu wanita yang kufur kepada Allah. Allah memberikan perumpamaan dengan istrinya nabi Nuh dan nabi Luth. Kedua wanita tersebut adalah istri nabi, istri seorang utusan Allah, pembawa risalah yang mengajak manusia kepada kebenaran. Akan tetapi, keduanya termasuk penghuni neraka, bagaimana bisa demikian? Sedangkan suami meraka adalah nabi? Tidak lain hal ini karena keduanya lebih  condong kepada kekafiran, tidak taat pada suami mereka, dan lebih memilih mengikuti kaumnya yang ingkar.

Kemudian QS. At-Tahrim Ayat 11:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya:  Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-MU dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.

Ini wanita jenis kedua, yaitu wanita yang beriman dan taat kepada Allah padahal dia bersuamikan orang yang kufur dan dzalim. Dalam ayat ini Allah mengisahkan tentang ‘Asiyah, istri Fir’aun.  Seorang wanita mu’minah yang suaminya  kafir bahkan termasuk musuh Allah. Wanita shalihah ini mendapat siksaan yang keras dari suami dan bala tentaranya karena keimanannya pada Allah. Apa yang dilakukan wanita ini? Wanita ini memilih bersabar dan memohon kepada Allah supaya dibangunkan sebuah rumah di surga. Allahu Akbar!! Sebuah contoh kesabaran yang indah dari pribadi shalihah.

Terakhir QS At-Tahrim ayat 12:

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

Artinya:  dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang ta’at.

Ini wanita jenis terakhir, yaitu wanita yang menjaga kehormatan dan kesuciaannya. Dia adalah Maryam binti Imran, wanita mu’minah yang menjaga harga diri dan kehormatannya. Maryam, wanita yang taat kepada Allah, banyak beribadah kepadaNya, dan meyakini akan janji Allah. Janji Allah berupa balasan atas segala amalan. Karena ketaatannya, Allah meniupkan ruh di dalam rahimnya tanpa sentuhan laki-laki, kemudian menjadikan ruh tersebut  seorang nabi dan rasul.

Saudariku muslimah, apa korelasi tentang kisah para wanita tersebut dengan keadaan kita sekarang? Saudariku muslimah, sebagian dari kita mungkin merasa kurang beruntung ketika bersuamikan bukan seorang ustadz atau seorang hafidz Qur’an. Mungkin suaminya hanya orang awam biasa bahkan ditambah berperangai kasar, na’udzubillah. Sudah pasti mungkin kita berandai-andai seandainya suaminya seorang ustadz…seandainya suaminya paham agama…seandainya suaminya hafidz Qur’an,,,seandainya dan seandainya…. Saudariku, alangkah baiknya jika kita meneladani sosok ‘Asiyah seperti yang telah dikisahkan di atas. Suaminya adalah Fir’aun, tahukah siapa Fir’aun? Ya, orang paling dzalim di muka bumi karena kekufuran dan keingkarannya. Setiap hari ‘Asiyah disiksa sang suami karena keimanannya kepada Allah, siksa yang teramat pedih. Apakah keadaan tersebut membuatnya berkeluh kesah dan menyesali nasibnya? Tidak saudariku, akan tetapi ‘Asiyah memohon kepada Allah surga dan memohon supaya diselamatkan dari siksa Fir’aun dan tentaranya.

Sebaliknya, jika kita termasuk yang beruntung memiliki suami mu’allim bahkan mungkin  seorang ustadz. Hendaknya kita banyak-banyak bersyukur dan memperbaiki amalan kita, jangan sampai kita seperti istrinya Nabi Nuh dan Luth.  Suaminya adalah laki-laki shalih dan faqih bahkan termasuk salah seorang anbiya`, akan tetapi kedua istri tersebut termasuk kaum kufur dan ingkar.  Jangan sampai ke’aliman dan kefaqihan suami kita membuat kita justru jauh dari ketaatan dan semakin jauh dari Allah. Wal’iyyadzubillah.

Terakhir, sebagai wanita mu’minah hendaknya kita bertaqwa kepada Allah.  Menyibukkan diri untuk beribadah, dan yakin akan janji Allah dengan sebenarnya. Kebanyakan kita sering ragu akan janji-janji Allah, sehingga ketika diuji sedikit saja kita banyak mengeluh, menyalahkan keadaan.  Jika kita mau sedikit merenung, segala sesuatu yang menimpa kita semuanya tidak lain dari Allah, bukan keadaan ataupun orang lain, semua itu hanya sebab. Sebagaimana Maryam, dia hamil tanpa sentuhan laki-laki dan keadaan itu sangatlah berat. Lebih-lebih dia seorang wanita yang sangat menjaga kesucian dirinya. Kemudian apakah dia menyalahkan keadaan? Ataukah menyalahkan takdir? Sama sekali tidak, dia meyakini ujian yang menimpanya datang dari Allah, tidak menyalahkan keadaan dan meyakini janji Allah, yaitu kemuliaan hidup baik ketika di dunia maupun kelak di akhirat.

Walhamdulillah washalatu wassalamu ‘ala nabiyyina Muhammad.

Penulis: Ummu Zakariya Herlani. Riyadh, 19/8/1436H

Dimurajaah oleh Abu Zakariya.