Catatan Kelam Demo dan Pemberontakan dalam Sejarah Umat Islam (2/2)

0
43

Keempat: Fitnah Ibnul Asy’ats (81H)

Pada tahun 81 H, Hajaj bin Yusuf Ats-Tsaqafiy di Iraq mengirim sebuah pasukan yang saat besar dibawah pimpinan Abdurrahman bin Muhammad Al Asy’ats untuk memerangi raja Turki (Ratbil). Sebelumnya raja ini membunuh banyak sekali kaum muslimin (hampir sekitar 30 ribu) dan mengepung pasukan muslimin di beberapa gunung.  Hajaj pun memberi perbekalan dan harta yang banyak sekali pada pasukan Ibnul Asy’ats‎. Jumlah pasukannya juga sangat besar, sekitar 120 ribu, termasuk di dalamnya para ahli ibadah, ulama’ dan tokoh dari Iraq. Hajaj memerintahkan mereka untuk memerangi raja Turki sampai kerajaan dan negaranya takluk.

Ibnul Asy’ats‎ dan pasukannya pun banyak mengalahkan pasukan kerajaan Turki dan berhasil masuk ke negeri tersebut serta menaklukkan daerah-daerah sekitar. Sampai kemudian masuk musim dingin. Ibnul Asy’ats‎ berunding dengan para sahabatnya, kemudian mereka sepakat untuk mengentikan peperangan sebentar sampai musim dingin habis. Ibnul Asy’ats‎ kemudian menulis surat kepada Hajaj tentang keputusan tersebut. Hajaj pun marah dan merintahkan Ibnul Asy’ats untuk melanjutkan perang sampai kerajaan Turki takluk. Terjadilah perseturan antara Hajaj dan Ibnul Asy’ats.

Akhirnya Ibnul Asy’ats‎ dan pengikutnya bermusyawarah. Mereka pun lalu menyebut-nyebut kejelekan dan kedzoliman Hajjaj. Akhirnya mereka sepakat untuk membangkang pada Hajaj, dan membai’at Ibnul Asy’ats‎ sebagai pemimpin. Ibnu  Asy’ats pun mengadakan perdamaian dengan raja Turki, lalu bersama pasukannya berbalik arah ke arah Iraq untuk memerangi kaum Muslimin (lihatlah ini adalah fitnah yang sangat besar!!! Yang awalnya memerangi kaum musyrikin sekarang berbalik arah memerangi kaum muslimin!!!). Di tengah perjalanan menuju Iraq, sebagian pasukan berkata “Tidaklah melepas bai’at dari Hajjaj kecuali juga melepas bai’at dari Abdumalik bin Marwan (khalifah saat itu) karena dia adalah pemimpinya”, akhirnya mereka sepakat melepas bai’at dari khalifah Abdulmalik bin Marwan. Ibnul Asy’ats‎ pun berhasil menaklukkan Iraq, lalu berhasi pula masuk Basrah dan mengambil bai’at dari sebagian besar penduduknya. Berdirilah Hasan al Basri dan ulama yang lainnya mengingatkan manusia dari fitnah dan memerintahkan mereka untuk bersabar dari kefajiran Hajaj bin Yusuf. Beliau berkata, “Sesungguhnya Al Hajaj adalah fitnah Allah, maka janganlah kalian melawan/menolak fitnah Allah dengan tangan kalian, tetapi hendaknya kaliah ber-istikaanah dan ber-tadhorru’, Allah berfirman,

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka , maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri. ” (Al Mu’minun: 76)

Tetapi kebanyakan manusia enggan pada nasihat Hasan al Bashri dan ulama’ yang lainnya sehingga fitnah pun terus berlanjut. Abdulmalik bin Marwan pun mencoba meredam fitnah, dia menawarkan pada Ibnul Asy’ats‎ dan pengikutnya bahwa dia akan mencopot Al Hajjaj dari Iraq dan menjadikan Ibnul Asy’ats‎ pemimpin pada wilayah yang telah ia kuasai. Tertapi Ibnul Asy’ats‎ dan para pengikutnya menolak tawaran ini.

Akhirnya Hajjaj pun membuat sebuah siasat untuk membunuh para ulama’ dan ahli-ahli ibadah di kalangan pengikut Ibnul Asy’ats‎ karena merekalah sumber semangat pasukan Ibnul Asy’ats‎. Siasat itu pun berhasil, terpencarlah pasukan Ibnul Asy’ats‎ dan dia lalu melarikan diri ke kerajaan Turki untuk meminta perlindungan. Hajaj pun menulis surat para raja Turki untuk menyerahkan Ibnul Asy’ats‎, raja Turki pun dengan penuh ketakutan menuruti permintaan Hajaj. Ibnul Asy’ats‎ pun dibawa ke Iraq, ditengah perjalanan dia bunuh diri dengan terjun dari bangunan yang tinggi. Lalu kepalanya di penggal dan dibawa ke Iraq, kemudian dikirim ke Abdulmalik di Syam. Lalu Hajjaj pun memburu dan menghukum orang-orang yang terlibat dalam fitnah Ibnul Asy’ats‎. Orang-orang yang dibunuh Hajaj mencapai 130 ribu jiwa, termasuk diantara mereka 4000 dari kalangan ahli ilmu, ahli ibadah dan orang-orang yang memiliki keutamaan. Lihatlah bagaimana akhir fitnah yang luar biasa besar ini???

Kelima: Fitnah Yazid bin Al-Mahlab (101H)

Fitnah Ibnul Mahlab ini ada kemiripan dengan fitnah Ibnul Asy’ats. Sebelumnya Ibnul Mahlab adalah wali (penguasa) untuk wilayah Khurasan. Kemudian setelah kematian bapaknya (Al Mahlab), Hajjaj memenjarakannya karena takut padanya. Pada saat Sulaiman bin Abdulmalik berkuasa, ia dijadikan wali di Iraq kemudian Khurasan. Ia banyak melakukan banyak penaklukkan. Pada saat Umar bin Abdulaziz berkuasa maka beliau mencopot Ibnul Mahlab dan memintanya untuk menyerahkan harta yang ia kumpulkan. Dia pun enggan dan mengingkari bahwa memiliki harta yang banyak, akhirnya Umar bin Abdulaziz pun memenjarakannya.

Ibnul Mahlab berhasil kabur dari penjara setelah mengetahui bahwa Umar bin Abdulaziz sakit (yang menyebabkan kematiannya). Lalu ia pun menuju Iraq tahun 101H dan menguasai Bashrah setelah lama melakukan pengepungan dan peperangan. Banyak orang yang mengikutinya dan melepaskan bai’at dari Yazid bin Abdulmalik (khalifah setelah kematian Umar bin Abdulaziz). Hasan Al Bashri pun berdiri menasehati manusia dan mengingatkan mereka kembali dengan fitnah Ibnul Asy’ats‎. Hasan Al Bashri terus menerus menginkari perkara Ibnul Mahlab dan menasehati manusia untuk menjaga jama’ah, tetapi mereka enggan.

Akhirnya khalifah Yazid bin Abdulmalik pun mengirim pasukan dari Syam untuk memadamkan fitnah Ibnul Mahlab. Ibnul Mahlab pun keluar bersama pengikutnya (sekitar 120 ribu) untuk berperang. Terjadilah peperangan, tetapi kemudian kebanyakan pengikut Ibnul Mahlab lari. Ibnu Mahlab dan saudaranya (Muhammad) terbunuh. Khalifah mengejar para pengikut Ibnul Mahlab dan hampir membinasakan mereka semua. Tidak ada sedikitpun kebaikan dari fitnah ini. Yang ada adalah pertumpahan darah diantara kaum muslimin. Allahu Musta’an.

Keenam: Pembunuhan Khalifah Umawi Al Walid bin Yazid (126H)

Setelah wafat khalifah Hisyam bin Abdulmalik maka yang menjadi khalifah setelahnya adalah anak saudaranya yaitu Al Walid bin Yazid. Al Walid bin Yazid ini dikenal dengan kefasiqan dan kefajirannya, sehingga dikenal dengan sebuat “al fasiq”, sehingga rakyat pun membencinya.  Akhirnya rakyat pun tidak sabar, temasuk juga anak pamannya, yaitu Yazid bin Al Walid. Yazid bin Al Walid, yang nampak pada dirinya ibadah dan keshalihan, berazam untuk membunuh khalifah sebagai sebuah bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran. Saudaranya, yaitu Abbas bin Al Walid, berusaha menasehatinya agar tidak memberontak (khuruj), tetapi ia tetap enggan. Banyak manusia yang membai’atnya dan ia pun berhasi memerangi dan membunuh khalifah dan memenggal kepalanya. Yazid bin Al Walid pun kemudian dibai’at jadi khalifah.

Pembunuhan ini telah menyebabkan banyak fitnah diantaranya yaitu terjadinya perselisihan yang hebat pada internal bani Umayyah. Sebagian mereka menuntut si pembunuh khalifah Al Walid dan membai’at selain Yazid bin Walid. Banyak terjadi kerusuhan dan saling memerangi di Syam, Iraq dan Khurasan. Daulah Umawiyah pun semakin melemah dan tidak berselang dari 7 tahun sejak terbunuhnya Al Walid bin Yazid maka daulah pun runtuh dan diganti daulah Abbasiah.   Pergantian kekuasaan dari daulah Umawiyah ke daulah Abbasiah diliputi banyak peristiwa memilukan. Awalnya daulah Abbasiah adalah gerakan dakwah yang lurus kemudian berubah menjadi gerakan yang mengangkat senjata pada daulah Umawiyah. Gerakan ini dibawah pimpinan Abu Muslim Al Khurasaniy. Mereka pun berhasil mengalahkan bani Umayyah dan membunuh khalifah terakhir mereka yaitu Marwan bin Muhammad tahun 132H. Imam Thabrani menyebutkan bahwa kalau diperkirakan maka total yang dibunuh oleh Abu Muslim saat pendirian bani Abbassiah adalah sekitar 600 ribu manusia selain yang terbunuh di medan perang!! Bahkan Abdullah bin Ali, paman khalifah Abu Abbas Al Safaah, membunuh penduduk Damaskus saat dia memasukinya sejumlah 50 ribu orang dalam waktu 3 jam!!! Innalillahi wa inna ilahi raji’un…

Ketujuh: Khurujnya Muhammad bin Abdullah bin Hassan bin Zaid bin Hassan bin Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Ja’far Al Manshur (145H)

Pada tahun 145H, Mumammad bin Abdullah bin Al Hasan yang berada di Madinah menyatakan khuruj dari Abu Ja’fal Al Manshur (khalifah kedua bani Abbasiah). Hal serupa kemudian diikuti oleh saudaranya, yaitu Ibrahim, di Kufah. Abu Ja’far pun mengerahkan pasukan ke Madinah dan berhasil membunuh dan memenggal kepala Muhammad bin Abdullah. Kemudian pasukan Abu Ja’far pun dapat mengalahkan Ibrahim di Kufah dan memenggal kepalanya. Saat kepala Ibrahim dihadapkan Abu Ja’far maka ia pun menangis dan berkata “Demi Allah, sesungguhnya saya membenci hal ini, tetapi kamu telah diuji denganku dan aku telah diuji denganmu”.

Pada abad yang terakhir ini pun juga terjadi peristiwa-peristiwa memilukan dalam sejarah umat Islam. Puluhan ribu nyawa kaum muslimin melayang disebabkan fitnah yang melanda Negara-negara kaum muslimin. Fitnah yang timbul karena demonstrasi atau revolusi yang berujung pada pemberontakan. Misal revolusi 1371H (Juli 1952) di Mesir, peristiwa Hamah di Suriyah 1402H (1982), peristiwa di Al Jazair 1413H (1991) dan lainnya.

 

Hendaknya kita berusaha mengubah kemungkaran yang ada pada pemerintah atau masyarakat secara umum dengan cara-cara yang benar dan sesuai dengan kemampuan kita. Bukan dengan cara-cara yang menyelisi syariat atau bahkan cara-cara yang dapat memunculkan kemungkaran yang lebih besar. Rasulullah bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ وَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ

Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran maka hendaknya dia rubah dengan tangannya kemudian siapa yang tidak mampu maka dengan lisannya, siapa yang tidak mampu maka dengan hatinya. [HR. Muslim dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudry]

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 25/2/1435H.

www.ukhuwahislamiah.com

Catatan: Disarikan dari kitab “Hukmu al Mudzoharot fii Al Islam wa Bayaani Ha’iati Kibari Al Ulama fii Al Mamlakati Al Arabiyah As Su’udiyah” yang disusun oleh Ahmad bin Sulaiman bin Ayyub hafidzahullah.