Bolehkan membuat replika Ka’bah untuk latihan manasik?

0
198

Syaikh Dr Saleh Al Fauzan hafidzahullah menjawab:

Hal ini dilarang. Telah diterbitkan untuk hal ini keputusan dari Lajnah Da’imah (lembaga fatwa Kerajaan Saudi Arabia) bahwa Ka’bah tidak boleh dibuat replikanya (suwar). Hal ini bisa saja menimbulkan kerancuan bagi manusia bahwa ada yang berhaji bukan ke Ka’bah tetapi ke replika Ka’bah. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh orang-orang terdahulu, hal ini adalah perkara yang diada-adakan sekarang ini. Mengajari manasik tidak harus memakai replika. Bisa mengajari manasik dengan memberi penjelasan pada mereka.  [Tanya jawab dars kitab Muntaqo bab manasik haji. 18/5/1437H]

*)Tambahan keterangan, ini mungkin fatwa lajnah da’imah yang dimaksud oleh beliau  (sumber: alifta.gov.sa  fatwa nomor  20266)

س: عندنا في بلاد المغرب، رجل يعلم الناس مناسك الحج بطريقة عملية، وذلك أنه صنع لهم إطارًا خشبيًّا ملونًا بالأسود يشبه الكعبة وكذلك مقام إبراهيم والصفا والمروة وزمزم والجمرات.. وغير ذلك مما يتعلق بمناسك الحج، وعملية التدريب تتم بأن يأتي الناس بإحرامهم ويلبسونه، ويقومون بالمناسك، ابتداءً من العمرة إلى نهاية الحج، ويرفعون أصواتهم بالتلبية داخل المسجد بأصوات جماعية، وإن هذه الظاهرة بدأت تنتشر في كل مناطق المغرب، بحيث إذا دخلت بعض المساجد، تجد إطارًا خشبيًّا يشبه الكعبة وكل ما له علاقة بالمناسك على طول السنة. فالمرجو منكم سماحة الوالد أن تبينواحكم الشرع في هذه المسألة، مع العلم أن هذا التدريب على مناسك الحج صور بالكاميرا، وتوزع أشرطة الفيديو على الناس.

ج: صناعة المجسمات من الخشب وغيره لبعض الشعائر الإسلامية كالكعبة ومقام إبراهيم والجمرات وغيرها لغرض استعمالها في التعليم لأداء مناسك الحج والعمرة على الوجه المذكور في السؤال لا يجوز بل هو بدعة منكرة، لما يفضي إليه من المحاذير الشرعية كتعلق القلوب بهذه المجسمات – ولو بعد حين – وتعريضها للامتهان وغير ذلك، مع عدم الحاجة إلى هذه الطريقة، إذ الشرح والبيان باللسان والاستعانة على ذلك بالكتابة التوضيحية كاف شاف في إيصال المعاني الشرعية إلى عموم الناس، وقد صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال:  من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد  أخرجه مسلم في ( صحيحه ).

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

Pertanyaan:

“Di negeri kami, negeri Maghrib (Maroko) ada seorang yang mengajarkan manasik haji kepada manusia dengan cara praktik, yaitu dia membuatkan mereka putaran yang diwarnai dengan warna hitam menyerupai Ka’bah, demikian juga  Maqam Ibrahim, Shafa dan Marwah, dan Jamarat dan replika lainnya yang ada terkait dengan manasik haji. Latihan ini dilaksanakan dengan pakaian Ihram yang mereka pakai lalu mereka melakukan latihan manasik, mulai dari umrah sampai berhaji, dan mereka bertalbiyah seraya mengangkat suara mereka di dalam masjid dengan suara serentak, dan sesungguhnya penomena ini telah mulai menyebar di seluruh wilayah Magrib. Jika Anda masuk ke sebagian masjid, Anda akan mendapatkan benda yang dikelilingi menyerupai Ka’bah dan benda apa saja yang memiliki keterkaitan dengan hanasik haji di sepanjang tahun. Maka diharapkan kepada Samahatul Walid (panggilan penghormatan) untuk menjelaskan hukum syar’I untuk masalah ini. …”

Jawaban:

“Membuat replika dari kayu atau lainnya untuk syiar-syiar Islam seperti Ka’bah, Maqam Ibrahim, Jamarot dan lain-lainnya dengan tujuan untuk dipergunakan sebagai alat pembelajaran dalam menunaikan manasik haji dan Umrah sebagaimana dengan cara yang telah disebutkan dalam pertanyaan (maka hukumnya) tidak boleh, bahkan bid’ah (sesuatu yang diada-adakan dalam agama) yang munkar, karena alasan, hal itu dapat mengakibatkan beberapa pelanggaran yang syar’I seperti misalnya ketertambatan hati dengan kerangka replika ini –meskipun setelah sekian lama – dan menjadikannya terbuka untuk dihina dan sebab lainnya dari yang demikian tersebut, disamping juga tidak ada kebutuhan dengan metode ini. Sebab pengajaran dengan cara menjelaskan dan menerangkan dengan ucapan dan menggunakan penjelasan tertulis sebagai bantuan sudah cukup dan melegakan dalam hal menyampaikan makna-makna syar’I kepada orang-orang awam, dan telah shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Siapa saja yang berbuat satu amalan yang bukan bagian dari urusan (Agama) kami maka ia tertolak. Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya. Dan hanya dengan Allah kita berharap taufiq dan semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah atas Nabi kita Muhammad dan keluarganya dan para sahabatnya.”

 

Lajnah Da’imah Lilifta’

Ketua: Abdulaziz bin Abdullah bin Baz

Wakil: Abdulaziz alu Asy-Syaikh

Anggota: Bakr Abu Zaid, Saleh Al Fauzan, Abdullah bin Gudayyan