Berdakwah Dengan Tutur Kata yang Lembut

0
1201

Telah menjadi tabiat manusia menyukai perkataan yang lembut dan membenci pekataan yang kasar. Untuk itu seorang da’i hendaknya selalu berusaha bertuturkata yang baik pada mad’u-nya (yang didakwahi). Dengar tutur kata yang lembut diharapkan yang didakwahi dapat menerima apa yang disampaikan sehingga tidak berpaling atau malah memusuhi.

Mari kita simak kisah Nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam saat mereka diutus untuk mendakwahi Fir’aun. Allah berfirman,

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى . فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى 

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS Thaha: 43-44)

Meskipun Fir’aun telah berbuat lancang yaitu mengatakan dirinya Tuhan, Allah tetap memerintahkan Nabinya Musa dan Harun untuk mendakwahinya dengan tutur kata yang lembut. Sebagian ahli tafsir mengatakan yang dimaksud perkataan lembut (قَوْلاً لَّيِّناً) dalam ayat diatas adalah FirmanNya,

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى* وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى

Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri dan kamu akan kubimbing ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (QS An Nazi’at: 18-19)

Kalau kita cermati kalimat dalam ayat diatas kita, dapati kalimat tersebut cukup lembut, sederhana, tidak kasar dan mudah dicerna.

Pertama, kalimat tersebut dimulai dengan“Adakah keinginan bagimu..” yaitu berupa tawaran, bukan perintah atau paksaan. Jika berupa perintah atau paksaan tentu tidak mengenakkan dihati yang didakwahi.

Kedua, kalimat tersebut berisi ajakan untuk “membersihkan dan mensucikan diri” yang mana semua manusia tentu menginginkannya.

Ketiga, tidak mengatakan ” أزكيك ” (saya sucikan kamu), tetapi mengatakan “تزكى” (kamu mensucikan diri). Tentu yang kedua ini jelas lebih lembut dan yang didakwahi merasa dihormati.

Keempat, mengajak dan mengingatkan untuk kembali ke jalan Tuhannya. Tuhan yang telah menciptakan, memberi rizki dan kenikmatan, yang seyogyanya kita bersyukur padaNya.

 

Demikianlah Allah memerintahkan dan mengajari nabi dan utusanNya untuk berdakwah dengan perkataan yang lembut. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan teladan.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 12 Sya’ban 1434.

www.ukhuwahislamiah.com

Maraji’: Tafsir syaikh As Sa’diy rahimahullah