Beberapa Poin Penting Terkaitan 10 Hari Terakhir Ramadhan

0
50

Pertama: setiap amal tergantung penutupnya

Rasulullah bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung penutupnya.” (HR Bukhari 6493).‎

Ramadhan adalah bulan yang penuh keutamaan dan di dalamnya disyariatkan berbagai ibadah yang mulia. Orang yang ingin mendapatkan keutamaan bulan Ramadhan secara sempurna maka hendaknya dia istiqomah beribadah pada seluruh hari di bulan Ramadhan. Terlebih lagi di hari-hari terakhir karena itu adalah penutup amalanya di bulan Ramadhan. Jangan malah sebaliknya di awal ramadhan semangat, kemudian diakhirnya malam mengendur.

Kedua: kesungguhan Rasulullah di sepuluh terakhir Ramadhan

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperlakukan sepuluh hari terakhir Ramadhan secara istimewa. Kegiatan Rasulullah saat diawal bulan Ramadhan tidak jauh seperti hari yang lainnya, tetapi begitu ‎memasuki supuluh hari terahir beliau bersungguh-‎sungguh dalam beribadah. Beliau iktikaf, qiyamul lail dan melakukan amalan lainnya. Aisyah ‎radhiyallahu ‘anhu berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
“Adalah Rasulullah bersungguh-sungguh pada sepuluh yang terakhir, suatu yang beliau tidak bersungguh-sungguh (seperti itu) di selainnya” (HR Muslim 1175).

Aisyah juga berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Adalah Rasulullah apabila masuk sepuluh hari (terakhir Ramadhan), beliau ‎mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR ‎Bukhari 2024 dan Muslim 1174).

Dan demikian juga para sahabat dan kaum salafus shalih setelahnya, mereka menjadikan ‎penghujung ramadhan untuk fokus beribadah. Mereka puasa di siang hari, dan bangun berdiri dimalam hari ‎untuk qiyamul lail. Jauh sekali perbandingannya dengan kaum muslimin di saat ini, menjelang Ramadhan ‎berakhir masjid masjid semakin sepi, jama’ah shalat fardhu dan tarawih semakin berkurang. Sebalikknya ‎pasar-pasar semakin rame, mall dan pusat perbelanjaan lainnya semakin membludak pengunjungnya. – ‎Allahu musta’an-‎

Ketiga: Mencari lailatul qadar

Malam lailatul qadar adalah malam yang sangat mulia. Allah mengabarkan bahwa malam itu lebih baik dari seribu bulan. Allah berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ القَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ القَدْرِ، لَيْلَةُ القَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Sesungguhnya kami menurunkannya (Al Qur’an) pada malam lailatul qadar. Apakah kalian tahu malam lailatul qadar itu? Sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.” (QS Al Qadar:1-3)
Untuk itu sudah semestinya seorang muslim berusaha bersungguh-sungguh ibadah untuk mendapatkan keutamaan malam lailatul qadar. Dalam banyak haditsnya Rasulullah mengabarkan bahwa malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan,  terjadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Terlebih khusus lagi di malam yang ganjil. Diantaranya Rasulullah bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah malam lailatul qodar di sepuluh hari terakhir bulan ‎Romadhon.” (HR Bukhari 2020)‎

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ، مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah malam lailatul qadar pada (malam) yang ganjil dari sepuluh terakhir Ramadhan. ” (HR Bukhari 2017)

Keempat: memperbanyak qiyamul lail

Memperbanyak qiyamul lail (sholat malam) di bulan Ramadhan adalah amalan yang sangat utama apalagi di sepuluh hari terakhir dimana diharapkan salah satu malamnya bertepatan dengan lailatul qadar. Rasulullah bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
“Barangsiapa mendirikan (sholat malam) Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala maka diampuni dosanya yang telah lalu. Barangsiapa mendirikan malam lailatul qadar karena keimanan dan mengharap pahala maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari 2014)

Oleh karena itu Rasulullah berusaha dengan sungguh-sungguh menghidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan juga membangunkan keluarganya untuk menghidupkan malam (sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sebelumnya).

Kelima: beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan

Diantara petunjuk Rasulullah adalah beriktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ
”Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam ber-i’tikaf di sepuluh hari terakhir pada bulan Romadhon.” (HR Bukhari 2025 dan Muslim 1171)
Beliau selalu beriktikaf di sepuluh akhir Ramadhan sampai beliau wafat. Aisyah radhiyallahu anha berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam dahulu biasa beriktikaf di sepuluh terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Kemudian para istrinya juga beriktikaf setelahnya.” (HR )

Beliau hanya meninggalkan sekali, yaitu saat fathul Makah (8 Hijriah) tetapi beliau pun mengadha’nya (mengganti iktikaf di hari lain).

Abu Zakariya Sutrisno. Sukoharjo,  21/9/1437H.

| Web:Ukhuwahislamiah.com | FB:Ukhuwah Islamiah | Twitter:@ukhuwah_islamia |