Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Sep 14, 2016 in Amalan, Fiqih | 0 comments

Beberapa hal terkait pengurusan jenazah

Beberapa hal terkait pengurusan jenazah

Berikut ini ini beberapa hal yang berkaitan dengan pengurusan jenazah.

 

Pertama: Orang yang sedang sakit. 

Orang yang ditimpa sakit hendaknya bersabar dan mengusahakan berobat dengan sesuatu yang halal. Hendaknya memperbanyak dzikir dan membaca la ilaha illallah apalagi jika merasa ajal sudah dekat. Disunnahkan mentalqin orang yang sedang sakaratul maut berdasar sabda Rasulullah, “Talqinlah mayit (orang yang akan meninggal) kalian dengan la ilaha illallah” (HR Muslim no. 916).  Rasulullah juga bersabda, “Barangsiapa akhir ucapannya la ilaha illallah pasti masuk surga” (HR. Abu Dawud no. 3116)

 

Kedua: Setelah meninggal

Setelah dipastikan seseorang meninggal hendaknya dipejamkan matanya kemudian ditutup dengan kain. Hendaknya segera diurus jenazahnya (dimandikan, dikafani dan seterusnya). Rasulullah bersabda, “Tidak selayaknya jasad seorang muslim ditahan (dibiarkan) di hadapan keluarganya” (HR. Abu Dawud no. 3159). Jika si mayit memiliki wasiat, hutang, atau tanggungan lainnya hendaknya segera ditunaikan.

 

Ketiga: Memandikan jenazah

Memandikan mayit adalah fardhu kifayah atas kaum muslimin. Yang paling utama memandikan jenazah adalah kerabat terdekat. Laki-laki memandikan mayit laki-laki, perempuan memandikan jenazah perempuan. Suami-istri boleh memandikan pasangannya. Begitu juga mayit anak yang yang masih kecil (dibawah 7 tahun) boleh dimandikan siapapun. Orang yang mati syahid di medan perang tidak dimandikan, langsung dikubur dengan pakaian saat dia meninggal. Saat memandikan hendaknya dicampur dengan sidr (daun bidara) jika ada. Mayit ditutup auratnya dahulu kemudian ditekan perutnya agar keluar kotoran dan dibersihkan. Kemudian mulai dengan diwudhukan dan dimandikan dari bagian tubuh sebelah kanan. Yang wajib adalah memandikan sekali sampai bersih, jika diperlukan bisa diulang.

 

Keempat: Mengkafani

Jenazah laki-laki dikafani dengan 3 lembar kain. Jenazah wanita dengan 5 lembar: satu kerudung, satu baju, satu sarung dan dua lapisan kain. Anak laki-laki dengan satu sampai tiga lembar kain. Anak perempuan dengan baju dan dua lapisan kain. Yang wajib dari kafan adalah satu lembar yang menutupi aurat.  Disunnahkan member wewangian pada mayit maupun kain kafannya. Orang yang mati syahid dan orang yang muhrim (sedang manasik haji/umrah) dikafani dengan pakaian yang dia pakai saat meninggal. Rasulullah bersabda saat ada seorang sahabat yang meninggal dalam keadaan muhrim, “Mandikanlah dengan air dan bidara, kafani dengan pakaiannya dan jangan tutup kepalanya karena sesungguhnya Allah akan membangkitkannya dalam keaadan bertalbiyah” (HR. Muslim 1206). Tetapi jika yang meninggal saat muhrim adalah wanita maka dikafani seperti mayit wanita biasa.

 

Kelima: Mensholatkan

Mensholatkan jenazah adalah fardhu kifayah. Sholat jenazah dilakukan dengan empat kali takbir. Setelah takbir pertama membaca al fatihah, setelah takbir kedua membaca sholawat atas nabi dan setelah takbir ketiga mendoakan si mayit kemudian salam setelah takbir keempat.  Disunnahkan mengangkat tangan untuk setiap takbir.  Jika jenazah laki-laki imam berdiri tepat di kepala mayit, jika perempuan di tengah (bagian pusar). Diantara do’a saat mensholatkan jenazah yang diriwayatkan dari Rasulullah (HR. Muslim no.963) adalah:

اللهُمَّ، اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ – أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

 

Keenam: Mengkubur

Disunnahkan untuk mengikuti prosesi pengurusan jenazah sampai dikubur. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mensaksikan jenazah sampai disholatkan maka baginya satu qirath, dan barang siapa mensaksikan jenazah sampai dikuburkan maka baginya dua qirath” Beliau ditanya apa itu dua qirath? Beliau menjawab: Yaitu dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim 945). Disunnahkan untuk mempercepat jalan saat membawa jenazah. Disunnahkan memperdalam dan memperluas kubur. Disunnahkan saat meletakan jenazah di liang kubur mengucapkan “Bismillah wa ‘ala millati rasulillah” (HR. Tirmidzi no. 1046). Mayit diletakkan disini kanan liang kuburnya dan dihadapkan kiblat. Kemudian ditutup tanah dan ditinggikan sampai sejengkal. Boleh diberi batu sebagai tanda kubur. Disunnahkan selesai mengubur untuk mendoakan dan memohonkan ampun untuk si mayit (HR. Abu Dawud no. 3221). Tidak boleh dibangun diatas kubur, tidak boleh dikapur/ditulisi, dan tidak boleh boleh diberi lampu penerang.

 

Ketujuh: Ta’ziah dan ziarah kubur

Disunnahkan untuk berta’ziah kepada keluarga yang ditinggalkan si mayit, menghibur dan menasehati mereka untuk sabar. Disunnahkan juga untuk membuat makanan untuk keluarga si mayit, bukan sebaliknya. Berdasarkan sabda Rasulullah, “Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far karena sesungguhnya telah mendatangi mereka sesuatu yang menyibukkan mereka” (HR. Abu Dawud no. 3132). Adapun duduk-duduk dan kumpul di keluarga si mayit adalah perkara yang tidak disyariatkan.

Disunnahkan untuk ziarah kubur bagi laki-laki untuk mengambil pelajaran, mengingat kematian dan untuk mendoakan yang telah mati. Hal ini berdasar sabda Rasulullah, “Dahulu saya melarang dari ziarah kubur, (sekarang) berziarahlah karena hal itu akan mengingatkan pada akhirat” (HR. Muslim no. 977 dan Tirmidzi no. 1055). Tetapi jika niatnya untuk tabaruk atau meminta kepada si mayit maka ini terlarang. Begitu juga tidak boleh melakukan perjalanan jauh sekedar untuk ziarah kubur. Rasulullah bersabda, “Tidak boleh melakukan perjalanan jauh (dengan tujuan ibadah) kecuali ke tiga masjid (masjidil Haram, masjid Nabawi dan masjid Al Aqsha)” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397)

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 12/12/1437H

| Web:Ukhuwahislamiah.com | FB:Ukhuwah Islamiah | Twitter:@ukhuwah_islamia |