Ayat yang memotong akar-akar kesyirikan

0
80

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِن شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُم مِّن ظَهِيرٍ   وَلَا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ عِندَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ

 

Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai sesembahan) selain Allah, mereka tidak memiliki  seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu. (QS Saba’: 22-23)

Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata berkaitan ayat ini:

Allah telah memotong secara keseluruhan sebab-sebab yang mana orang-orang musyrik bergantung padanya (sehingga melakukan kesyirikan). Orang-orang musyrik menyembah sesembahan mereka tidak lain karena ingin mendapat suatu manfaat. Dan manfaat tidak mungkin didapatkan kecuali dari seseorang yang padanya ada salah satu dari empat hal berikut:

  • Ia adalah pemilik (maalik) manfaat itu dan penyembahnya ingin mendapatkan darinya.
  • Kalau ia bukan pemiliknya, setidaknya dia adalah sekutu (syariikun) dari pemiliknya.
  • Kalau ia bukan pemilik, bukan pula sekutu, setidaknya dia bisa sebagai pembantu atau penolong (nadhiir).
  • Kalau tidak bisa sebagai penolong atau pembantu, setidaknya dia bisa sebagai pemberi syafaat.

Allah menafikan keempat tingkatan ini dengan penafian yang berurutan, dari yang paling tinggi ke yang paling rendah. Allah menafikan kepemilikan (al mulk), sekutu (syarikah), pertolongan (mudhoharoh), dan syafaat yang diminta oleh oleh musyrik. Allah hanya menetapkan syafaat bagi orang yang diberiNya izin – dan ini tidak berlaku bagi orang musyrik-. Cukuplah ayat ini sebagai penerang, hujjah, dan pemurnian untuk tauhid, pemutus akar-akar kesyirikan serta nasehat bagi orang yang mau berfikir. Al Qur’an penuh dengat ayat-ayat yang serupa dan semisal dengan ini.   Tetapi kebanyakan orang tidak menyadari hakekat dan kandungan di dalamnya. Mereka mengira hal itu hanya terjadi pada orang-orang yang telah lalu dan merasa tidak mewarisi orang-orang sebelumnya. Hal inilah yang menghalangi hati untuk memahami Al Qur’an.

[Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah]