AWAS, HOAKS!!

0
52

HOAKS adalah istilah populer untuk menyebut “berita bohong “(lihat KBBI terbaru). Awalnya berasal dari bahasa Inggris HOAX yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia. Hoaks seringkali menimbulkan keresahan dalam masyarakat dan bahkan dapat menyebabkan permusuhan dan yang lainnya.

Ada banyak faktor kenapa hoaks semakin cepat tersebar saat ini, diantaranya (saya kumpulkan dari berbagai sumber):

  1. Semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi tanpa diiringi pengetahuan dan juga kebijaksanaan dalam menggunakannya.
  2. Banyak yang tidak perduli dengan kredibilitas sumber berita. Hanya tertarik dengan isi beritanya yang seolah-olah menarik.
  3. Ada “bias informasi”, dimana seseorang cenderung tertarik dan mengshare berita-berita yang hanya berdasarkan kepercayaan, meskipun dia belum mengeceknya.
  4. Adanya “penyakit” buru-buru dan ingin terkenal. Orang seringkali menyebar berita hanya sekedar ingin dikenal dan ingin dianggap selalu update. Kadangkala seseorang sudah tahu berita itu tidak benar tetapi tetap dishare dengan dalih sekedar klarifikasi.
  5. dll

Bagaimana seorang muslim berinteraksi dengan berita yang ia dapatkan?

Pertama, cek (tabayun) kebenarannya.

Hendaknya selalu hati-hati dan jangan mudah percaya dengan setiap berita yang ada. Apalagi jika beritanya dari sumber yang meragukan. Untuk itu Allah memerintahkan untuk mengecek berita dari orang-orang fasik,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti” (QS Al Hujurat: 6).

Tidak semua berita yang sampai kepada kita itu benar, untuk itu perlu dicek dulu sebelum disampaikan pada orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda, “Cukuplah seseorang itu dinyatakan bohong jika dia menceritakan semua apa yang ia dengar” (HR. Muslim).

Mengecek beritanya harus dari sumber atau orang-orang yang dapat dipercaya. Jangan malah sekedar bertanya sambil mengeshare berita yang tidak benar itu di media sosial. Ini semakin menyebarkan berita yang tidakbenar tersebut.

Kedua, pertimbangkan isi beritanya.

Bisa jadi meskipun beritanya benar tetapi tidak baik untuk disebar dan bahkan yang wajib adalah menutupinya. Misal berita yang dapat menyebabkan permusuhan, atau berisi kekejian. Cukuplah ancaman yang keras dari Allah dalam surat an Nuur berikut ini menjadikan kita takut untuk menyebarkan kekejian ditengah kaum muslimin. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS An Nuur: 19)

Ketiga, sampaikan berita dengan cara yang terbaik dan pada orang yang membutuhkan.

Tidak semua berita yang kita ketahui itu benar dan kita yakini isinya baik itu boleh kita sebar kemana-mana. Perlu dipertimbangkan kepada siapa berita itu patut kita sebar dan juga bagaimana  cara menyampaikannya. Jangan sampai berita yang benar dan baik tersebut ternyata malah menjadi fitnah!

Lihat Kisah Muadz bin Jabbal saat diberitahu oleh Rasulullah tentang keutamaan tauhid (hak Allah dan hak hamba) kemudian dia ingin menyebarkannya, Rasulullah pun melarang karena takut nanti manusia akan berserah diri dan tidak beramal (HR Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30). Bagus sekali apa yang disampaikan sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu:

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً

 “Tidaklah engkau menceritakan sesuatu kepada suatu kaum sedang akal mereka tidak mampu menerimanya, melainkan cerita itu menimbulkan fitnah pada sebagian dari mereka.” (HR. Muslim)

Mari selalu bersikap hati-hati, jangan sampai kita ikut membenarkan dan menyebarkan berita bohong dan berita-berita yang tidak bermanfaat.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 25/2/1439H