Aqidah Ahlussunnah Terhadap Para Sahabat –radhiyallahu anhum-

0
664

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam semoga tercurah atas Rasulullah, keluarga, sahabat serta pengikutnya.

Dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah tentang ‘adalah para sahabat

Sisi ‘adalah (takwa dan amanah) para sahabat termasuk persoalan aqidah yang bersifat qath’I (pasti), atau bagian dari agama yang diketahui secara jelas dan mendasar. Hal ini banyak ditunjukkan dalam dalil-dalil dari Al Qur’an maupun As Sunnah.

Diantara dalil dari al Qur’an, Allah berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS Al Fath: 18)

Ayat ini menunjukkan bukti adanya tazkiyah (rekomendasi) dari Allah kepada para sahabat. Sebuah rekomendasi yang tidak mungkin diberikan atau diberitakan kecuali oleh Allah karena berkaitan dengan isi hati para sahabat yang berupa keridhaan Allah kepada mereka. Orang yang telah diridhai oleh Allah tidak mungkin mati dalam keadaan kafir karena yang menjadi ukuran adalah saat kematian. Ibnu Taimiyah berkata, “Keridhaan Allah adalah sifat qadimah (sejak awal), Allah tidak akan meridhai seseorang kecuai Dia tahu bahwa orang itu akan mati dalam keadaan yang diridhaiNya. Siapa yang diridhaiNya maka Allah tidak akan murka kepada mereka selama-lamanya. Dan setiap yang dikabarkan mendapat keridhaanNya maka ia adalah penghuni surga” [Ash-Sharim Al-Maslul hal 572-573]

Allah juga berfirman,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud . Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al Fath: 29)

Dalam ayat diatas Allah menggabarkan sifat-sifat terpuji dari Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Ibnu Al-Jauziy mengatakan, “Sifat-sifat ini berlaku untuk seluruh para sahabat menurut jumhur ulama’” [Zaad Al-Masiir 4/204]

 

Allah juga berfirman tentang orang-orang Muhajirin, Anshor dan yang mengikuti mereka setelahnya. Allah berfirman,

لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ ‏اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ. وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا ‏يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ ‏نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا ‏بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ‎  ‎

8. (Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar 9. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. 10. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS Hasyr: 8-10)

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS Taubah: 100)

Adapun diantara dalil dari As Sunnah, Rasulullah bersabda,

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ، ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلاَ نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela sahabatku! Seandainya salah seorang diantara kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan menyamai satu mud infaq salah seorang dari mereka, tidak pula setengahnya.” [HR Bukhari 3673 dan Muslim 2541]

Diriwayatkan dari sahabat Imran bin Hushoin radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda,

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik baik generasi adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.” [HR Bukhari 3650 dan Muslim 2535]

النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ، فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ، وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي، فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ، وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي، فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

Bintang-bintang adalah penjaga yang di langit. Jika hilang bintang tersebut maka datang pada langit (bencana) yang dijanjikan. Dan aku adalah penjaga bagi para sahabatku. Jika aku pergi maka datang pada mereka apa yang dijanjikan. Sahabatku adalah penjaga bagi umatku, jika sahabatku telah pergi maka datang pada umat apa yang dijanjikan padanya” [HR Muslim 2531]

Keutamaan As-Suhbah (Persahabatan)

Keutamaan persahabatan dengan Rasul tak tertandingi dengan sesuatu apapun. Sahabat Ibnu Umar berkata, “Jangan kalian mencela para sahabat Muhammad karena amalan mereka sesaat lebih mulia dari amalan kalian selama 40 tahun.” Dalam riwayat waki’ disebutkan, “Lebih mulia dari ibadah kalian seumur hidup” [HR Ahmad dalam fadhail as-shahabah 1/57, Ibnu Majah 1/31, Ibnu Abi Ashim 2/484. Dishahihkan oleh al-Bushairy dalam kitab Zawaid ibnu Majah 1/24]

Jumhur ulama berpendapat bahwa keutamaan sahabat tidak tertandingi dengan amalan apapun disebabkan pertemuan mereka dengan Rasulullah. Adapun para sahabat yang telah disepakati dalam pembelaannya terhadap Nabi, terdepan dalam Hijrah, pertolongan dan penjagaan terhadap syariat, serta penyampaiannya terhadap generasi berikutnya maka sahabat tersebut tidak dapat ditandingi oleh generasi berikutnya. Alasannya adalah karena tidaklah satu kebaikan yang lebih dahulu dilakukan oleh seseorang melainkan ia pasti mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengerjakan kebaikan tersebut berikutnya. Maka dari sini jelaslah kebaikan mereka (para sahabat). [Lihat Fath al-Bariy 7/7]

Imam Ahmad berkata, “Taraf terendah dari seorang sahabat lebih mulia dari generasi yang tidak bertemu dengan Nabi, walaupun mereka bertemu dengan Allah (di akhirat kelak) dengan membawa seluruh amal saleh.” [Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah, al-Lalakaiy 1/160]

Imam Nawawi berkata, “Keutamaan sahabat walaupun sesaat tidak dapat ditandingin oleh amalan apapun, kedudukannya tidak dapat dicapai oleh apapun. Dan persoalan fadhilah (keutamaan) tidak dapat ditetapkan melalui qiyas, hal ini merupakan karunia Allah yang diberikan kepada yang Ia kehendaki” [Shahih Muslim bi Syarh An Nawawi 16/93]

Ditambah lagi sebagaimana ayat yang disebut sebelumnya tentang adanya tazkiyah (rekomendasi) batin dan hati para sahabat oleh Allah yang Maha Mengetahui yang tersembunyi dalam dada manusia. Allah berfirman, “ Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka” (QS Al Fath: 18)

Hukum mencela sahabat

Celaan terhadap sahabat bentuknya bermacam-macam dan bertingkat maka hukumnya pun berbeda-beda. Secara ringkas celaan terhadap sahabat dan hukumnya dapat dijabarkan sebagai berikut:

Pertama, barangsiapa mencela seluruh sahabat atau mayoritas mereka dengan kata kufur, murtad dan fasiq maka hukumnya adalah kafir.  Hal ini berdasarkan beberapa hal, diataranya karena celaan bagi para sahabat berarti celaan kepada pembawa/periwayat agama ini. Merekalah yang menyampaikan agama (Al Qur’an dan As Sunnah) pada generasi berikutnya. Celaan pada mayoritas sahabat juga termasuk pendustaan tehadap nash al Qur’an dan As Sunnah yang secara jelas menyebutkan keutamaan mereka.

Kedua, mencela dengan celaan yang berkaitan dengan kualitas agama (seperti tuduhan kufur atau fasiq) kepada sahabat yang diriwayatkan secara mutawatir (jelas) keutamaannya seperti khulafa ar rasyidin maka yang rajih (benar) adalah hukumnya kafir. Hal ini karena termasuk pendustaan terhadap perkara yang mutawattir.

Ketiga,  mencela dengan celaan yang berkaitan dengan kualitas agama kepada sahabat yang tidak diriwayatkan secara mutawatir keutamaannya maka menurut jumhur ulama pelakunya dihukumi fasiq, tidak sampai dihukumi dengan kafir. Alasanya mereka tidak mengingkari perkara pokok/utama yang difahami dalam agama ini. Kecuali jika celaannya karena kedudukannya sebagai sahabat Rasul (maka dihukumi kafir juga).

Keempat, menghina sebagian sahabat dengan celaan yang tidak berkaitan dengan kualitas agama dan keadilan mereka seperti celaan “ilmunya sedikit”, “tidak zuhud”, dll maka pelakunya perlu dihukum ta’zir (dan hukumnya tidak sampai kafir).

Kelima, mencela Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan tuduhan yang Allah telah mensucikan beliau dari tuduhan tersebut maka hukumnya kafir secara ijma’ para ulama’. Ibnu Katsir berkata dalam tafsir QS An Nuur 23, “Para ulama’ telah berijma’ bahwa seseorang yang mencela Aisyah setelah (turunnya ayat) ini dan menuduhnya dengan tuduhan sebagaimana disebutkan dalam ayat ini maka sungguh ia telah kafir disebabkan menentang isi al Qur’an

Keemam, adapun hukum menghina ummahatul mukminin (selain Aisyah) dengan tuduhan keji (zina) maka ulama berbeda pendapat, yang rajih adalah pelakunya dihukumi kafir. Tuduhan terhadap istri-istri Rasulullah adalah pelecehan terhadap beliau. Allah berfirman, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji” (QS An Nuur: 26).

 

Konsekuensi pencelaan terhadap sahabat

Para ulama salaf telah mewaspadai dan memperingatkan dari bahaya pencelaan dan pelecehan terhadap para sahabat. Hal ini karena celaan tersebut mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi batil yang bertentangan dengan pokok-pokok agama (ushuluddin), diantaranya:

Pertama, tuduhan kafir, murtad atau fasiq terhadap mayoritas sahabat berimplikasi adanya keraguan terhadap Al Qur’an dan Assunnah karena merekalah yang meriwayatkan dari Nabi.

Kedua, konsekuensi dari tuduhan ini juga adalah tuduhan bahwa umat ini adalah umat terjelek karena pendahulunya adalah orang-orang yang jelek (murtad, kafir atau fasiq). Sungguh ini adalah ungkapan yang kotor.

Ketiga, konsekuensi dari tuduhan ini juga adalah mendustakan Al Qur’an atau menuduh Allah tidak mengetahui kondisi para sahabat.

Keempat, Rasulullah telah mencurahkan segala bentuk pengorbanan untuk mendidik dan membina para sahabat tak kurang dari 23 tahun. Hasilnya, dengan izin Allah mereka menjadi masyarakat teladan baik dalam sisi akhlaq, pengorbanan, zuhud, wara’ dan lainnya.  Tuduhan kepada para sahabat berarti tuduhan bahwa Rasulullah telah gagal mendidik dan membina mereka.

 

Sikap menahan diri dari perselisihan yang terjadi diantara mereka

Rasulullah bersabda, “Jika disebut sahabatku maka hendaknya kalian menahan diri” [HR Thabraniy. Dan berdasar jalan periwayatan hadits dan penguatnya maka Syaikh Albani menguatkan hadits ini, lihat as-silsilah ash-shahihah 1/34].

Oleh karena itu, salah satu bagian penting dari manhaj ahlussunnah adalah menahan diri dari kesalahan para sahabat, tidak mencari-cari kesalahan mereka, serta tidak tenggelam dalam perselisihan yang pernah terjadi diantara mereka. Abu Nu’aim rahimahullah berkata, “Bersikap menahan diri dari menyebut kesalahan para sahabat, menyebutkan kebaikan dan keutamaan mereka, serta menafsirkan perbuatan mereka dengan makna yang terbaik merupakan ciri orang yang beriman yang mengikuti jejak para sahabat dengan ihsan. Mereka itulah sosok yang dipuji oleh Allah dalam firmanNya, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS Hasyr: 10)” [Al Imamah hal 373]

Kaidah Penting dalam mengkaji sejarah para sahabat.  

Pertama, membicarakan perselisihan diantara para sahabat bukan perkara asas/utama, justru yang menjadi asas aqidah ahlussunnah adalah bersikap menahan diri dari perselisihan yang terjadi diantara mereka. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam mayoritas kitab-kitab ahlussunnah dalam masalah aqidah seperti kitab As Sunnah karya Abdullah bin Ahmad bin Hambal,  As Sunnah Ibn Abi Ashim, Aqidah Ashab Al Hadits karya Ash-Shabuniy, Al Ibanah Ibn Battah, Aqidah Thahawiyah dan lain-lain.

Kedua, Bila diperlukan untuk menyebutkan permasalahan yang diperselisihkan para sahabat maka diwajibkan mengecek keshahihan dan validitas riwayat-riwayat tersebut. Banyak sekali riwayat yang tidak benar atau mengandung tambahan dan pengurangan yang menjadikan riwayat tersebut mengandung cacian atau tuduhan pada sahabat.

Ketiga, jika riwayat tersebut shahih dan dzahirnya mengisyaratkan sisi negatif bagi para sahabat maka hendaknya maknanya diarahkan kepada jalan keluar dan mencarikan udzur bagi para sahabat.

Keempat, adapun yang diriwayatkan secara khusus menjelaskan perselisihan dan peperangan diantara para sahabat dan riwayatnya shahih maka dalam hal ini mereka adalah para mujtahid (Jika benar mendapat dua pahala, jika salah mendapat satu pahala). Sebab perselisihan diantara mereka adalah perkara syubhat (samar/tidak jelas).

Kelima, hal lain yang perlu diketahui seorang muslim seputar fitnah perselisihan yang terjadi diantara sahabat – karena perbedaan ijtihad-  adalah kesedihan dan penyesalan mereka yang mendalam atas berbagai peristiwa yang terjadi. Mereka tidak mengira persoalan tersebut sampai pada taraf yang sedemikian. Diantaranya adalah penyesalan Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata, “Seandainya aku tahu akhir semua kejadian ini aku tidak akan mengambil sikap seperti itu” [Magazy Az Zuhri hal 154]. Begitu pula Khalifah Ali saat melihat sahabat Talhah terbunuh beliau berkata, “Andaikata aku meninggal 20 tahun lalu dan tidak menyaksikan kejadian hari ini” [Ushud al-Ghabah oleh ibnu Atsir 3/88-89 dan As-Siyar 1/36-37]. Begitu pula Muawwiyah radhiyallahu anhu, saat datang kabar wafatnya Ali maka beliau duduk lalu membaca “Innalillahi wainna ilaihi raji’un” dan menangis. Istrinya berkata, “Kemarin engkau memeranginya, mengapa engkau menangisi kepergiannya hari ini?” Beliau menjawab, “Sungguh celaka engkau, sungguh yang aku tangisi adalah orang-orang yang akan kehilangan kesabaran, ilmu, keutamaan dan kebaikan-kebaikan beliau (yaitu Ali)” [al-Bidayah wa an-Nihayah 8/15&133]. Jika seperti itu mereka apakah patut dicela??

Keenam, ahlussunnah tidak berkeyakinan bahwa sahabat adalah ma’shum (terjaga) dari dosa. Bisa saja salah seorang diantara mereka terjatuh pada dosa. Tetapi mereka memiliki kebaikan dan amalan yang begitu besar sehingga menghapus kesalahan kesalahan mereka. Bisa saja mereka setelah berbuat dosa kemudian bertaubat sehingga diampuni dosa-dosa tersebut. Mereka juga golongan yang paling berhak mendapat syafaat Rasulullah. Ad Dzahaby berkata, “Mereka memiliki kelebihan dan keutamaan terdahulu dan amalan-amalan yang bisa mengapus kesalahan yang terjadi diantara mereka. Mereka memiliki jihad dan ibadah yang dapat menggugurkan dosa-dosa mereka. Akan tetapi kita tidak bersikap ghuluw (ekstrim) kepada salah seorang diantara mereka. Kita juga tidak meyakini mereka adalah orang-orang yang ma’shum” [Siyar Alamin Nubala’ 2/177]

Ya Allah, jadikanllah kami orang-orang yang mencintai sahabat RasulMu, memuji, membela dan meneladani jalan mereka. Semoga sholawat dan salam tercurah pada Nabi kita, keluarga, sahabat serta pengikutnya. Amien.

Diringkas dari buku “Aqidah Ahlussunnah kepada Para Sahabat” karya Dr. Muhammad bin Abdullah Al Wushabi, edisi bahasa Indonesia yang diterbitkan Markaz Inayah Riyadh (Indonesian Community Care Center).

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 14/2/1436.

www.ukhuwahislamiah.com