Apakah Sama Orang-Orang yang Mengetahui dan Orang-Orang yang Tidak Mengetahui?

Sep 10, 2011 by

Apakah Sama Orang-Orang yang Mengetahui dan Orang-Orang yang Tidak Mengetahui?

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9)

Beruntunglah orang-orang yang mau merenungi ayat-ayatNya dan mau mengambil pelajaran darinya. Sesungguhnya sebaik-baik nasehat adalah Kitabullah, barangsiapa mau mengikuti nasehat didalamnya sungguh ia telah beruntung dan selamat. Lewat tulisan yang ringkas ini kami berusaha mengajak pembaca semua untuk sedikit merenungi dan mengambil faedah dari firman Allah ayat kesembilan dari surat Az Zumar diatas.

Keutamaan ilmu dan Ahli Ilmu

Penulis yakin telah banyak yang mengetahui bahwa ayat diatas adalah salah satu diantara dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu. Dalam ayat yang mulia ini Allah menyuruh Rasulullah untuk bertanya “Apakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui?”. Ini adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab, karena sudah pasti beda orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengatahui, orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Jangankan manusia, hewan saja berbeda antara yang berilmu dan yang tidak berilmu. Allah berfirman, “Katakanlah: Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu” (al Maidah: 4). Hasil tangkapan binatang pemburu yang terlatih (berilmu) halal dimakan, tidak demikian tangkapan hewan buas pada umumnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin membawakan dan menjelaskan ayat diatas di awal bab “Keutamaan Ilmu” dalam “Kitabul Ilmi” beliau. Diantaranya beliau berkata, “Tidak sama orang yang berilmu dan tidak berilmu, sebagaimana tidak sama orang yang hidup dengan yang mati, yang mendengar dengan yang tuli, yang melihat dengan yang buta. Ilmu adalah cahaya yang dengannya manusia mendapat petunjuk, yang denganya manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Dengan ilmu Allah mengangkat/melebihkan siapa yang dikehendakinya dari para makhluqNya. Allah berfirman, Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Al Mujadalah: 11)…” [kitabul Ilmi, hal 13]

Sikap seorang yang berilmu

Salah satu faedah yang berharga dari ayat diatas adalah “Hendaknya seorang yang berilmu tidak seperti orang-orang yang tidak berilmu”. Ironisnya kita dapati banyak orang yang bertahun-tahun menuntut ilmu atau bahkan orang-orang yang menisbahkan dirinya dengan “ahli ilmu” tetapi akhlak, perilaku maupun amalannya tidak menunjukkan ilmu yang dimiliki. Berikut beberapa sikap yang hendaknya dimiliki seorang yang berilmu:

1. Sikap terhadap diri sendiri

Seorang yang berilmu hendaknya dapat berinteraksi dengan dirinya sendiri dengan baik. Hendaknya ia melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Rasulullah bersabda, Bersemangatlah kamu terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi kamu, dan mohonlah pertolongan pada Allah dan jangan merasa lemah [HR Muslim dari sahabat Abu Hurairah]. Jangan sampai ia menyerupai orang-orang yang tidak memiliki ilmu yang suka melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat atau bahkan melakukan hal-hal yang merugiakan dirinya sendiri. Padahal Rasulullah bersabda, Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya [Tirmidzi (2318), Ibnu Majah (3976), Dihasankan oleh Tirmidzi]. Selain itu, hendaknya seorang yang berilmu hendaknya ia menghiasi dirinya dengan perangai yang baik. Jangan sampai ia menyerupai perangai orang-orang yang tidak berilmu, kolot, kasar, suka debat kusir dan lainnya. Hendaknya ia menjadi orang yang arif, bijaksana, hati-hati dan berbagai perangai yang baik lainnya yang mencerminkan ilmu yang ia miliki.

 

2. Sikap terhadap Tuhannya

Seorang yang berilmu hendaknya ia semakin dekat dengan Tuhannya dan semakin takut dariNya. Allah berfirman ,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Al Fathir: 28)

 

Kedekatan seseorang dengan Tuhannya tercermin pada amalannya. Seorang yang berilmu hendaknya dia giat melakukan ibadah dan amalan lainnya baik yang sunnah maupun yang wajib. Jangan menjadi orang yang menjadikan ilmu hanya sebagai wawasan, tanpa ada kemauan untuk mengamalkannya.  Jika bermalasan dalam beramal lalu apa bedanya dengan yang tidak berilmu. Dan itulah sifatnya orang yahudi, berilmu tetapi tidak diamalkan.

Sebagaimana telah bersusah payah mencari ilmu, hendaknya berusaha keras juga untuk mengamalkannya. Kalau kita mengamalkan apa yang telah kita ketahui maka Allah akan menambah ilmu kita. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah perkataan hikmah,

من عمل بما علم اورثه الله علم ما لم يعلم

“Barangsiapa mengamalkan apa-apa yang ia ketahui maka Allah menganugerahinya ilmu yang ia belum ketahui.”

Dan hal ini juga dikuatkan dengan FirmanNya

, وَاتَّقُواْ اللّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّهُ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Dan bertakwalah kepada Allah. Allah mengajarmu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 282)

 

3. Sikap terhadap orang lain

Seorang yang berilmu hendaknya dapat menempatkan diri saat berinteraksi dengan orang lain. Baik beinteraksi dengan yang lebih tua maupun lebih muda, dengan yang lebih berilmu maupun dengan orang-orang awam. Dia dapat menempatkan dirinya saat bergaul dengan sesama penuntut ilmu, dengan gurunya, maupun dengan orang-orang yang jahil. Diantara sikap seorang yang berilmu terhadap orang lain adalah tawadhu’ dengan ilmu yang dimiliki. Alangkah indahnya pepatah yang mengatakan “Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk”. Seorang yang memiliki niat yang benar dalam menuntut ilmu ia akan semakin tawadhu’ seiring bertambah ilmu yang ia miliki. Ia sadar bahwa ia menuntut ilmu untuk mengangkat kebodohan pada dirinya dan orang lain, bukan sekedar untuk sok atau bangga-banggaan dengan ilmu yang dimiliki.

 

4. Sikap terhadap Agamanya

Seorang yang berilmu memiliki ghirah (kecenderungan) yang tinggi terhadap agamanya. Ia berada dibarisan terdepan dalam dakwah dan memperjuankan Agamanya. Sebagaimana telah diketahui bahwa agama tidak mungkin tegak kecuali dengan dua hal: Ilmu (petunjuk) dan Pedang (perang). Dan itulah jalan para Nabi dan Rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka, mereka mendakwahkan ilmu yang mereka miliki. Allah berfirman,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (QS Yusuf: 108)

 

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosulullah serta keluarga dan sahabatnya.

Selesai ditulis di Sukoharjo, 24 Ramadhan 1432 H (24 Agustus 2011)

Abu Zakariya Sutrisno

 

Related Posts

Tags

Share This

468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


five − = 0

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>