Adab Nasihat

0
351

Bismillah,

Diantara indahnya agama Islam adalah adanya syariat untuk saling menasihati diantara kaum muslimin. Nasihat termasuk syiar Islam yang sangat agung. Namun, di zaman ini tidak banyak kita dapati orang yang memiliki kesungguhan untuk menasihati sesama kaum muslimin. Di sisi lain kita dapati orang-orang yang sulit menerima nasihat padahal yang dinasihatkan adalah suatu kebenaran. Kalau kita cermati sebab menyebarnya penyimpangan dan kesalahan adalah karena diremehkannya masalah saling menasihati ini. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak muslim atas muslim..” beliau menyebut diantaranya “Jika dia meminta nasihat maka nasihatilah” [HR Muslim 2162].

 

Agungnya Kedudukan Nasihat

Makna kata nasihat secara bahasa adalah khalish atau jernih. Dikatakan نصحت العسل, artinya: aku menjernihkan madu. Maka nasihat pada hakekatnya adalah usaha untuk menjernihkan atau membersihkan orang yang dinasihati dari kesalahan yang ada padanya. Inti dari nasihat adalah menghendaki kebaikan bagi yang dinasihati. Nasihat adalah perkara yang sangat agung. Para Rasul pun menyampaikan dakwah dan nasihat bagi para kaumnya. Lihat perkataan Nabi Huud saat mendakwahi kaummnya,

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنَاْ لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS A’raf: 68)

Bahkan Rasulullah bersabda, “Agama adalah nasihat” Para sahabat bertanya, Bagi siapa ya Rasulullah? Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, pemimpin kaum muslimin dan segenap kaum muslimin” [HR Muslim 55]. Rasulullah menyampaikan bahwa agama adalah nasihat, hal ini menunjukkan agungnya kedudukan nasihat dalam agama. Sebagaimana sabda beliau “Haji adalah Arafah” karena agungnya kedudukan wukuf di Arafah dalam ibadah haji.

Sebagaimana disebut dalam hadits sebelumnya Rasulullah menjadikan nasihat sebagai hak muslim satu dengan yang lainnya, “Jika dia meminta nasihat maka nasihatilah.” Para ulama berkata bahwa hal itu adalah suatu kewajiban. Adapun bagi non-muslim apakah disyariatkan nasihat untuk mereka? Jawabannya iya. Mereka dinasihati agar masuk Islam. Kalau mereka minta nasihat pada kita maka kita nasihati dengan sesuatu yang tidak memudharatkan kaum muslimin.

 

Sebab diremehkannya perkara nasihat

Nasihat adalah perkara agung agung dalam agama Islam tetapi kita dapati hal ini hampir menghilang diantara kaum muslimin. Kenapa? Karena banyak yang memahami nasihat dengan pemahaman yang salah. Bahkan banyak yang memahami dengan pemahaman yang terbalik. Nasihat dianggap termasuk mencampuri kebebasan individu. Sehingga banyak yang meninggalkan nasihat karena takut dianggap mencampuri urusan orang lain. Betapa banyak tersebar keburukan dan penyimpangan dan didiamkan dengan alasan kebebasan. Beginilah kalau yang diutamakan adalah mencari ridha manusia meskipun diatas kemurkaan Allah.

Sebagian orang meninggalkan nasihat karena merasa tidak pantas memberi nasihat. Merasa dirinya masih banyak kekurangan dan kesalahan. Syaitan memberi was-was dalam dirinya “Aku yang lebih utama dinasihati kenapa Aku menasihati orang lain?” Dia juga takut nanti kalau menasihati kemudian yang diberi nasihat malah membalikkan ucapannya.

Sebab lain diremehkannya perkara nasihat adalah karena adanya sebagian orang yang menyampaikan nasihat dengan cara yang salah. Seperti nasihat yang disertai kata-kata kotor atau secara terang-terangang padahal bisa dengan cara tersembunyi. Hal ini juga yang menyebabkan yang dinasihati berpaling dari kebenaran karena merasa direndahkan dan disebar kejelekannya.

Jika nasihat-menasihati telah ditinggalkan diantara kaum muslimin maka keburukan dan kekejian pun semakin tersebar. Jika sudah demikian maka rusaklah masyarakat. Lalu, dimana gambaran sempurnanya masyarakat islami? Padahal Rasulullah bersabda, “Seorang muslim adalah cermin bagi saudaranya” [HR Bukhari dalam Adabul Mufrad]. Dimana perasaan tanggung jawab dalam hal ini? Belumkah sampai kabar tentang sahabat Jarir bin Abdillah saat beliau berkata “Aku membaiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menegakkan sholat, membayar zakat dan menasihati setiap muslim” [HR Bukhari 57 dan Muslim 56]. Apakah kaum muslimin telah lupa bahwa mulianya mereka karena adanya saling menasihati diantara mereka yaitu dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Allah berfirman,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110)

 

Adab Memberi Nasihat

Nasihat harus dilandasi ilmu syar’I dan dilandasi dalil. Sebagian manusia menasihati diatas kejahilan atau mengingkari sesuatu diatas kejahilan. Sebagian orang menyampaikan ucapan yang tidak benar atas nama nasihat, bukan dari agama juga bukan dari syariat, tetapi dari kejahilannya.

Dan juga hendaknya menjauhi sikap su’u dzan (prasangka buruk) bagi orang lain. Karena banyak diantara manusia yang su’udzan pada orang lain kemudian dilandasi hal itu mereka membicarakannya diatas nama nasihat.

Hendaknya menjauhi sikap merasa tinggi dan cara-cara yang seolah merendahkan orang yang menasihati. Karena sikap-sikap seperti ini akan menyebabkan yang dinasihati lari dan tidak menerima kebenaran. Seorang pemberi nasihat hendaknya selalu berhias adab-adab Islami. Lihatlah hal yang dicontohkan Rasulullah saat beliau menegur Muawwiyah bin Hakam radhiyallahu ‘anhu yang bicara dalam sholatnya, “Sesungguhnya sholat ini tidak diperkenankan sedikitpun di dalamnya perkataan manusia, sesunggunya ia adalah tasbih, takbir dan bacaan al Qur’an.” Muawwiyah berkata, “Demi Allah beliau tidak menghardik, tidak memukul dan tidak mencela saya..” [HR Muslim 537]. Lihat juga sikap beliau terhadap seorang badui yang kencing di masjid. Beliau menghindari terjadinya keburukan yang lebih besar.

Seorang pemberi nasihat hendaknya mengedepankan sikap lemah lembut. Nasihat hendaknya dilakukan setahap demi setahap. Jika yang dinasihati tetap bersikukuh baru kemudian diberi ancaman dengan adzab Allah dan seterusnya. Tetapi asalnya nasihat dalah dengan lemah lembut.  Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam saat ingin mendakwahi Fir’aun,

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut“. (QS Thaha: 44)

Hendaknya kita mulai nasihat dengan menyebut kebaikan-kebaikan yang ada pada orang yang dinasihati. Baru kemudian kita sampaikan nasihat yang ingin kita sampaikan dan kita peringatkan dari kesalahan yang ada padanya. Misalnya dengan mengatakan “Saya ingin menyampaikan sesuatu dan saya melihat Anda adalah orang yang baik dan suka menerima kebenaran. Mohon nanti Anda pikirkan,siapa tahu apa yang Saya sampaikan ada benarnya.. dst” Atau perkataan yang semisalnya yang membuat orang yang dinasihati bisa menerima.

 

Perbedaan antara nasihat dan celaan

Terdapat perbedaan yang sangat jauh antara nasihat dan celaan. Ibnu Qoyyim berkata yang secara ringkas maknanya: Nasihat tujuannya adalah kebaikan untuk yang dinasihati, dilakukan dengan cara yang penuh rahmat dan si pemberi nasihat semata-mata hanya mengharap wajah Allah. Adapun seorang pencela maka tujuannya adalah mencela dan merendahkan meskipun seolah-olah bersikap sebagai seorang pemberi nasihat.

Perbedaan lainnya yaitu bahwa seorang pencela biasanya suka membeda-bedakan. Jika yang berbuat salah adalah orang yang ia senangi maka beri udzur. Jika orang lain yang tidak ia senangi melakukan kesalahan serupa langsung ia cela padahal kesalahannya sama.

 

Menerima Nasihat

Kalau diri kita pada posisi orang yang dinasihati maka hendaknya kita berusaha menerima jika yang dinasihatkan adalah kebenaran. Meskipun mungkin yang memberi nasihat menyampaikan dengan cara yang kurang baik. Benar bahwa seorang pemberi nasihat hendaknya memakai cara yang baik dalam menasihati. Tetapi sebagai orang yang dinasihati jangan sampai kita menolak kebenaran hanya karena cara penyampaian yang salah. Jangan sampai kita termasuk menjadi orang-orang yang kibr atau sombong. Sebagaimana disabdakan Rasulullah bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain [Lihat HR Muslim 91].

Mungkin batin kita akan berkata “Dia sudah mencela saya, merendahkan saya, masak saya harus menerima nasihatnya.” Jangan sampai syaithan memperdaya kita dalam hal ini! Hendaknya kita memikirkan betul hakikat dari segala sesuatu. Meskipun cara penyampaiannya salah hendaknya kita beri udzur orang yang menasihati kita dan bahkan kita ucapkan terima kasih karena telah mengingatkan kita dari kesalahan. Bahkan bisa jadi nasehatnya tersebut telah menyelamatkan kita dari jurang neraka.

 

Penutup

Mari kita berusaha memperbaiki diri kita, mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Kita juga berusaha menunaikan kewajiban kita untuk saling memberi nasihat diantara kaum muslimin. Kita lakukan nasihat tersebut dengan cara yang baik dan semata-mata mengharap ridha Allah. Mungkin diawal orang yang dinasihati akan membantah dan bahkan mengeluarkan kata-kata yang tidak baik. Tetapi jika niat kita benar dan tulus dari hati insyaallah nasihat tersebut akan memberi pengaruh bagi yang dinasehati meskipun mungkin setelah beberapa lama.

Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad.

Disarikan dari Khutbah Syaikh Shalih Al Munajjid hafidzahullah yang berjudul “Adabu An Nashihah” oleh Abu Zakariya Sutrisno. Sumber: http://almunajjid.com/khotab/6362